ROCK ADALAH SEMANGAT!! ROCK ADALAH PEMBERONTAKAN!! ROCK BUKAN HANYA SEKEDAR BEAT RHYTEM ATAU MELODI. TETAPI LEBIH DARI ITU, ROCK ADALAH JALAN HIDUP!!!

Sunday, December 28, 2008

MY PET SALLY


MY PET SALLY: Band Punk 'Manis' Tanpa Atribut PUNK. Banyak yang salah kaprah mengindentikkan anak-anak punk. Menurut anggapan mereka-mereka yang ?bergaya? punk secara fashion, punk adalah sepatu boot, celana ketat, rambut mohawk dan piercing di seantero tubuh. Benarkah?


Konon, gaya hidup punk itu selalu dengan pemberontakan. "Kami tidak setuju. Bagi kami punk itu sebuah spirit. Kalau kita sih ambil semangat bermusiknya saja",jelas Dessy [lead itar], Jimbo [drum], dan Renyka [vokal/bas] yang tergabung di My Pet Sally Band.

MyPetSally resmi berdiri pada tanggal 31 Desember 2003, yang pada saat itu masih menamakan dirinya dengan CROSLINE. Namun merasa sedikit kurang “sreg” dengan nama tersebut mereka memutuskan untuk mengubahnya menjadi MYPETSALLY. Nama ini didapat secara spontan, karena saat itu sedikit terburu-buru untuk mencantumkan nama pada proposal yang hendak diserahkan pada sebuah even musik Campus. Mengingat saat itu band mereka masih belum mempunyai nama. Nama MYPETSALLY sendiri kami ambil dari judul sebuah lagu BLINK182 di Album mereka yang bertajuk “BUDHA”.

Menurut mereka, kata MyPetSally itu sendiri, sebenarnya mempunyai banyak arti. Dimana Sally itu sendiri bisa diartikan sebagai Serangan tiba-tiba atau bisa juga berarti sebagai suatu kejenakaan. Jadi disini mereka memadukan kedua arti tersebut sebagai gambaran bagi warna musik yang mereka bawakan. Yaitu sebagai sesuatu yang merupakan serangan, namun dengan adanya kejenakaan, maka yang didapat bukannya ketakutan tapi hanya kesenangan yang akan dirasakan oleh audience semua.

Dalam bermusik maupun performance, mereka mengakui selama ini telah terinfluence pada band-band idola kami seperti “HI-STANDARD”, “BLINK 182”, “No Use 4 a Name”, “MXPX”, “SUM 41”, “Gold Finger”, “New Found Glorry”, and more.

My Pet Sally pertama kali manggung pada malam pesta tahun Baru 2004 di acara "Dynamite Sound part II" UPN. Selanjutnya mereka biasa manggung di Even2 music kampus, maupun acara2 music di Kota Jogjakarta dan sekitarnya. Menurut mereka pengalaman manggung yang paling berkesan selama ini yaitu pas acara PAT PAT GULIPAT PARTY dalam rangka HUT Radio SWARAGAMA FM, bareng Endank Soekamti, dan band2 Jogjakarta lainnya yang merupakan acara amal pengumpulan Dana buat anak2 yang membutuhkan.

Menyinggung sejarah My Pet Sally, menurut penjelasan Dessy, band mereka sebenarnya sudah cukup lama memainkan punk melodic sebagai pilihan bermusiknya. "Selagi punk melodic belum jadi trend seperti sekarang, kita sudah nekat memainkannya," jelas cewek yang ngefans dengan BLINK 182. Kira-kita emapat tahun silam, ketika masih bernama Freunde, mereka tergolong punya fans yang tidak sedikit. "Kita seangkatan dengan Endank Soekamti, tapi dia mentas duluan," celetuk Dessy sambil terkekeh. Endank Soekamti adalah band melodic punk yang naik daun dengan hits Bau Mulut. Yang unik dan cukup membedakan My Pet Sally dengan band melodic punk lainnya, dari tiga personilnya, dua orang cewek, satu orang cowok.

Meski punk terkenal dengan lirik-lirk provokatif dan lantang tentang pemberontakan, My Pet Sally memilih lirik cinta sebagai acuan. "Tapi bukan cinta yang menye-menye mas, istilahnya ketegaran cintalah," terang Jimbo, cowok yang bernama asli Suryo Santoso sambil terseyum.

Personil My Pet Sally juga sadar, musik yang mereka mainkan juga tergolong trend perputaran musik. "Kalau suatu saat trendnya turun, kita sih tetap akan main punk. Hanya mungkin akan kita imbuh beberapa alat musik tradisional supaya berbeda," ujarnya sembari menyebut alat musik bigpipe dan flute Irlandia sebagai alat musik yang coba mereka sandingkan dengan musik punk. Pertemuan dua kutub musik itu, akan dijadikan semacam ciri khas buat My Pet Sally. "Kita tidak pingin itu cuma jadi tempelan saja, tapi betul-betul utuh dengan musik yang kita mainkan," jelas Renyka serius.

My Pet Sally termasuk beruntung, lantaran satu lagunya yang masuk kompilasi Berpacu Dalam Melodic dipilih sebagai single pertama dan dibuat video klipnya. "Yah semoga kami bisa makin dikenal dan diterima dengan baik di komunitas punk dimana saja," harap Jimbo, Renyka dan Dessy.

Read More......

NETRAL


NETRAL Band; 'Kegilaan' Tak Pernah Mati... NETRAL adalah Group Band yang dibentuk pada bulan November 1992. Dimana oleh pers Indonesia dikatakan sebagai Band Alternatif. Terlepas dari yang diberikan pers Indonesia ini benar atau tidak. Yang jelas band yang dibentuk dari hasil persahabatan di SMA Negeri 55 dan 60 Jakarta ini hanya memainkan musik yang benar-benar murni keluar dari hati Nurani mereka sendiri. Sesuai dengan Definisi Musik yang kita kenal.

Musik adalah Suatu bahasa yang universal yang dapat dimengerti oleh semua orang, dimana musik menyuarakan isi hati sang pemusik yang memang ingin mengeluarkan dan membagikan apa yang mereka rasakan kepada semua orang.

Personil awal band yang mengusung punk ini adalah Bagus Dhanar Dhana [bas/vokal], Gabriel Bimo Sulaksono [drum], dan Ricy Dayandani alias Miten [gitar]. Mulanya, mereka memainkan musik-musik dari luar negeri seperti Nirvana, Sexpistol, Sonic Youth, The Cure, dan lain-lain. Juga sering mengisi acara-acara di SMA-SMA maupun Universitas-Universitas di Jabotabek. Penampilan mereka ini membuat mereka dikagumi anak-anak remaja. Termasuk juga remaja asing yang bersekolah di Jakarta Internasional School (JIS). Dengan acara rutin yang dibuat anak-anak JIS ini yaitu BLACK HOLE yang diadakan di kawasan Gatot Subroto. Netral kerap kali diundang untuk menjadi pengisi acara tersebut.

Banyaknya pementasan yang dilakukan membuat Netral semakin dewasa dalam penampilan. Sehingga mereka mulai memikirkan untuk membuat album sendiri. Pada tahun 1994, dengan melalui perjuangan yang tidak ringan, Netral akhirnya mendapatkan produser untuk album perdananya. Dibawah naungan PT. Indosemar Sakti Netral berhasil menjual lebih dari 80.000 unit kaset dan Compact Disc dari album perdana ini.

Hal ini membuat promotor-promotor Indonesia dan media asing tertarik untuk mementaskan Netral. Tercatat sebanyak lebih dari 50 pementasan dalam 1 tahun di seluruh Indonesia.

Berita tentang Netral juga banyak terdengar di media Elektronik dan juga di media cetak remaja. Hampir semua majalah remaja di Indonesia pernah memuat ulasan tentang band Netral, bahkan majalah sekelas Gatra memuat tentang band ini satu halaman penuh.

Album kedua Netral berjudul Tidak Enak dirilis pada tanggal 30 Juli 1996 dan koferensi pers di Jazz Rock Café Jakarta dihadiri hampir seluruh rekan pers di Jakarta dan rekan pers dari daerah lainnya.

Album kedua Netral berjudul TIDAK ENAK, memang berkesan tidak enak, tetapi bila diamati ada keseriusan dan kepedulian dalam musik Netral sehingga menimbulkan suatu daya tarik bagi yang mendengarnya. Dengan lagu Bobo, boring day , dan desaku album kedua ini tidak kalah angka penjualannya dengan album pertama.

Band ini semakin dikenal banyak orang sehingga ketika band asing seperti Foo Fighters, Sonic Youth, dan Beastie Boys hadir di Indonesia pada acara Jakarta Pop Alternatif Music Festival, Netral diminta untuk menjadi pendamping band mereka. Tercatat lebih dari 50.000 orang menyaksikan pementasan Netral.

Tidak hanya sukses di pementasan, namun sukses Netral juga diikuti dengan masuknya Netral dalam nominasi BASF AWARD untuk kategori pendatang baru terbaik dari group Rock terbaik.

Kepribadian sederhana dan apa adanya yang dimiliki oleh Netral membuat band ini banyak disukai oleh siapapun, baik pers, promotor, produser, maupun Fans.

Daya tarik group band ini mulai berkembang seiring dengan berkembangnya era Globalisasi. Dimana suatu masyarakat tidak statis terhadap suatu pengaruh, tetapi mulai membuka diri untuk mengambil apa yang cocok dan baik buat dirinya.

Pada tanggal 16 januari 1998, Netral mengeluarkan album ketiga dengan judul Album Minggu Ini dan berlangsung menggelar tour ke-24 kota di Sumatera dan Jawa. Dengan klip video Pucat Pedih Serang buatan Rizal Mantovani, membuat penjualan album ini terus bertambah dengan adanya lagu-lagu pertama. Angka ini terus bertambah dengan adanya lagu-lagu lain yang sangat disukai pasar seperti lagu Kau, Selamat Datang, dan Dukun Kebo Ijo. Berbeda dengan album-album sebelumnya, album ini lebih mudah didengar, dengan harapan mampu menyerap pasar yang lebih luas.

Pada bulan Juli 1998, Bimo menyatakan ingin keluar karena mau mencoba warna musik baru. Walaupun berat hati namun akhirnya Netral harus melepas Bimo. Masa-masa tanpa Bimo harus dilewati dengan Additional Drummer untuk mengisi jadwal pementasan.

Atas desakkan produser, Netral harus segera mencari Drummer tetap untuk mengisi tempat yang ditinggalkan Bimo, maka setelah mempertimbangkan banyak hal, diputuskan untuk mengajak Eno sebagai Drummer tetap Netral. Maka terhitung sejak 26 Maret 1999, Eno menerima tawaran Netral dan resmi menggantikan Bimo.

Bersama Eno, akhirnya Netral dapat merilis album keempatnya yang berjudul PATEN pada tanggal 9 Juni 1999. Dengan didukung Additional Musician seperti Dhani Ahmad dan Deasy Fitri, hits Netral yang berjudul Nurani dipercaya dapat menaikkan angka penjualan album diatas 150.000 unit. Apalagi di album ini masih ada materi-materi seperti Babi, 98, Pecah Belah, Yang Enerjik, mudah dipahami dan dapat mewakili suara-suara anak muda yang selama ini kurang didengar.Sound Guitar yang unik dan pukulan Drumm Eno yang dinamis menjadikan album ini lebih matang dari album-album sebelumnya.

Pada Tahun 2001, dengan 2 orang personil aja netral merilis album ke V dengan judul Oke Deh dengan hits singlenya Bertarung. Album ini berisikan lagu-lagu terbaru karya Eno dan Bagus serta dibantu oleh beberapa additional gitar.

Tahun 2003, Netral mendapat satu personil baru untuk posisi gitar yaitu Coki, setelah melalui audisi yang panjang dan beberapa kali ikut sebagai additional gitar di beberapa konser musik bersama netral, makan akhirnya, coki resmi menjadi anggota netral. Di tahun yang sama, netral merilis album terbaru bertitel Kancut dengan single pertamanya yang berjudul - I Love You. Album ini cukup sukses dan merebut perhatian anak-anak muda karena materi album ini cukup fresh, dan unik namun memiliki ciri khas netral yang kental. Pada akhir tahun 2003 , Netral mengeluarkan klip keduanya berjudul Namanya Juga Netral. Lagu yang sedikit berbau bossas ini disertai lirik yang lucu dan tetap diakhiri dengan beat ala Netral yang kencang dan powerful, menjadikan lagu ini menjadi sesuatu yang baru dan unik bagi pasar musik Indonesia.

Tanggal 7 Februari 2005, netral merilis album ke VII, dengan materi 7 lagu dan hanya dicetak 7000 keping VCD saja, netral bermaksud agar album ini menjadi persembahan yang special bagi para pecinta musik netral. Karena album ini hanya dicetak terbatas. Dengan menjadi produser album sendiri dengan nama Kancut Record Netral merilis album Hitam, dengan single pertamanya Haru Biru. Album ini disertai bonus DVD berisi film tentang pembuatan album ini. Maka menjadikan album ini sesuatu yang special dan mungkin baru pertama di Indonesia.

www.tembang.com

Read More......

SAJAMA CUT


SAJAMA CUT Band: Spirit Kegelapan, Kematian & Putus Asa! NAMANYA memang rada aneh, SAJAMA CUT. Tidak ada arti khusus dari nama ini. Hanya kebetulan, personil band ini menemukan satu buku yang bercerita soal pembunuhan. Buku bersetting Jepang itu berjudul SAJAMA CUT.
Pilihan nama itu tampaknya disesuikan dengan tema lirik lagu di album-album mereka. Gelap dan kusam! Semuanya bicara soal penderitaan dan kesakitan. Sebenarya, mau dibawa kemana potensi band yang bergerak dari tataran indie hingga menembus label major ini.

Dikawal oleh Marcel Thee (Vokal, Gitar), Aldy Waani (Gitar), Mario Leman (Bass), Andry Bhakti Ruay (Drum), dan Budi Marcukhunda (Kibord), SAJAMA CUT mulai disebut-sebut ketika single mereka Less Affraid masuk dalam kompilasi original soundtrack (OST) film Janji Joni. Namanya memang berbau Jepang, tapi sesungguhnya, SAJAMA CUT tidak mengadopsi musiknya dari negeri Matahari Terbit tersebut. "Kami hanya mengambil spirit, kultur, kedisiplinan, motivasi dan semangat orang Jepang saja," terang Aldy ketika band ini ngobrol dengan TEMBANG.com beberapa waktu lalu di kantor Universal Musik Indonesia Jakarta.

Entah darimana spirit Jepang itu terwakili, tapi yang jelas band ini punya perjalanan musikalitas yang cukup panjang. Perjalanan panjang itu membentuk mereka menemukan satu karakter musik yang mereka sebut Stylish Rock Band. Apa tuh? "Kita menampilkan diri kita dalam performance dan aksi panggung yang apik," jelas Aldy lagi. Entah ada korelasinya atau tidak, tapi penulis lebih mendefinisikan band ini sebagai "Band Rock Ganteng' saja.

Musikalitas SAJAMA CUT dipengaruhi oleh R.E.M, the Fall, Gram Parson atau Guided by Voices. Kemudian melodinya mereka dipengaruhi oleh The Beatles dan Hank Williams, sementara lirik-liriknya band ini memilih kejujuran seperti Nirvana.

Tak heran, album terbaru mereka Fallen Japanesse nyaris dipenuhi karakter musik yang tidak berbeda dengan influencenya. Kemudian, SAJAMA CUT menyodorkan lirik yang semua berbahasa Inggrs. Hanya satu yang berbahasa Indonesia. Percaya atau tidak Lagu Tema yang menggunakan bahasa Indonesia malah terdengar aneh. Hal itu diakui oleh personil band ini. "Yang membuat lagu Marcell, tapi kita juga merasa ada yang kurang dengan lirik bahasa Indonesia itu," terang Mario yang nimbrung bicara.

Satu hal yang jadi catatan, lirik SAJAMA CUT banyak bicara soal kegelapan dan kematian. Kalau ada yang kena "virus" lirik dan ikut pilih mati? "Wah, masak sampai begitu? Pokoknya kita cuma nyanyi saja kok dan berusaha jujur degan yang kita rasakan," kilah mereka serempak.

www.tembang.com

Read More......

ZUES


ZUES BAND: Musisi Heavy Metal Banyak Yang Sebenarnya Preman!! HANTAM!! Teriakan lantang itu mulai kerap dipekikkan oleh band pengusung heavy metal asal Jogjakarta, ZUES BAND. Tak ingin bertarung secara fisik, tak ingin mencaci secara verbal, tapi ZUES ingin mengubah pola pikir dengan lirik lugas dan menyentuh. "Kami ingin lirik yang kami tulis memberi wacana baru kepada pendengar musik ini," terang Nuza Priyanto [a.k.a Nuzferatu], vokalis band heavy metal yang berkepala plontos ini.

Pernyataan-pernyataan tajam itu digelontorkan oleh personil band ini ketika mereka rame-rame menyambangi redaksi TEMBANG.co*, beberapa waktu lalu. Mereka Dekky Ary Wibowo [a.k.a Dekky Drum Madness], Andank Pambudi Sampurna [a.k.a Aan Jail Bait - bassist], Radhiar Fadhila [a.k.a Diar Pain Maker - lead guitar].

Meski menolak sebagai bagian dari Jogja Invasion, ZUES tetaplah band yang tumbuh dalam kultur kesenian Jogjakarta yang kuat. "Sayangnya, di Jogja pengkotakkan genre masih sangat kuat mas. Mereka masih sering menolak pemain dari genre lain," jelas Nuza yang diangguki personil lainnya.

Secara blak-blakan, ZUES juga menyadari tidak sedikit pemain band metal yang sebenarnya lebih cocok sebagai "preman" dibanding menjadi musisi. "Mereka tidak mau membuka diri dengan perkembangan musik lain, sehingga terdengar kurang fresh dan itu-itu saja," sambung Aan, basis yang selalu mengenakan topeng ketika tampil di atas panggung.

Persoalan emosi, diakui oleh personil-personil ZUES sebagai bagian yang menganggu kreativitas bermusik mereka. "Kalau kami sekarang lebih membuka diri dengan perkembangan musik diluar rock juga. Artinya, ada kesegaran baru yang bisa kami dapat," terang Nuza, vokalis yang juga pegang gitar di line-up ZUES.

Band ini memang terang-terangan mematok diri hanya memainkan musik heavy metal. "Tapi kami tidak memusuhi genre lain, karena mereka juga adalah teman-teman kami,' tegas Nuza buru-buru.

Pernyataan ZUES ini seperti ingin mematahkan anggapan, musisi Jogja berdiri sendiri-sendiri. "Sebenarnya yang sering bermasalah justru antar fans. Padahal musisinya sendiri sering ngumpul bareng," tutur Dekky, drummer yang tidak banyak bicara. Persoalan "antara fans" inilah yang menjadi tanggungjawab moral dari band-band tersebut, termasuk ZUES. "Kita sering memberikan edukasi dan contoh tatanan moral yang benar kepada fans kita," jelas Aan seraya memberi contoh, ketika mereka membagi-bagi zakat. "Itu hanya sebagian kecil saja kok, tapi paling tidak menjadi contoh yang bisa ditiru," terang Nuza, cowk kelahiran 14 September [menolak ditulis tahunnya].

Album Buka Mata, Buka Telinga adalah album pertama mereka sebagai band. Sebelumnya, Nuza pernah bergabung di DePranter Band. Di band tersebut, cowok bersuara berat ini pernah menjadi juara III Festival Thrash Metal beberapa tahun silam. Album ini memang terdengar "sangat gahar" dibanding rilisan-rilisan Jogja sebelumnya, yang dominan dengan pop. "Album ini bercerita tentang hal-hal sehari-hari yang kami dengar, kami lihat, dan kami rasakan," jelas Nuza yang banyak menulis lirik di album ini.

Meski terdengar berat, sebenarya album ini justru dialokasikan dengan tema yang ringan-ringan saja. "Semuanya pernah terjadi dan mungkin masih terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari kok," sambung Diar yang nimbrung ngobrol.

ZUES Band banyak disebut-sebut mengusung musik yang sebenarnya tidak sedang trend. "Kami tidak peduli dengan trend. Justru kita ingin mencari pendengar baru dari mereka yang muda-muda," repet Nuza mantap.

Sebagai band yang tidak bisa dibilang baru, mereka punya kesiapan sebagai band panggung yang cukup meyakinkan. "Kalau kita manggung, selalukita persiapkan tata lampu, panggung dan juga sound system. Jadi penonton betul-betul mendapatkan kepuasan," jelas Bam, manajer band yang aksi panggungnya konon diterima baik oleh kalangan underground Jogja.

Bicara tentang album pertamanya, tak lepas dari kekurangan yang ada. Kalau kita simak single pertama Hantam [Seiring Dendam]. ZUES melakukan "penyederhanaan" musikalitas untuk bisa melibatkan pendengar. Mereka mencoba bermain ?musik untuk didengar? bukan untuk ?memusingkan kepala?. Lagu ini punya tempo yang cukup cepat. Secara musikalitas, lagu ini punya tempo permainan yang rapi meski membuthkan stamina yang konstan. Sayangnya, vokalnya sesekali [meski tipis] slip of tongue. Tak terlalu kentara memang, tapi cukup menganggu saja.

Banyak yang menyebut musik mereka "cowok sekali" tapi tak sedikit perempuan yang menjadi pendengar heavy metal ala ZUES juga. Tak heran Nuza [kalau di panggung cirinya powerfull], Diar [selalu tampil vintage], Dekky [explosive], dan Aan yang selalu mengenakan topeng, bisa seperti liar di panggung. "Tapi harmonisasi musik kami tetap terjaga kok," kilah Diar sambil tersenyum.

Album pertamanya memang belum melambungkan mereka ke tangga teratas. Tapi paling tidak, penikmat musik tahu ada band "gahar" muncul dengan karakter kuat musik rock.

www.tembang.com

Read More......

GALAGASI


GALAGASI Band, Tak Mau Didikte Soal Musikalitasnya. BENARKAH kini era musik kembali ke masa-masa tahun 70-80an? Benarkah pengaruh musik tahun-tahun itu menjadi pengaruh kental band-band kekinian? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab memang. Melihat kecenderungannya, tidak bisa "hantam-kromo" saja mengeneralisir semua musisi berniat kembali ke era itu. Karena toh kalau bicara pronsetasi, masih lebih banyak band-band yang terinspirasi trend-trend kekinian. Lalu?

Salah satu yang "kecipratan" pengaruh lawas itu adalah band bernama GALAGASI. Terhitung band baru, GALAGASI yang digawangi Stevanus Antono [drum], Rocky Antono [bass], Ari Wicaksono [gitar], Lea Rosita Risella [kibord] dan Mario Ferhat Bach [vokal], ternyata berani memilih musik yang sedikit berbeda, pop-rock [lebih dengan aksentuasi rock dominan]. Malah di beberapa komposisi, GALAGASI berani memainkan komposisi yang kental dengan warna progresif rock. Rock progresif atau progressive rock dan sering disingkat prog adalah jenis musik yang mulai berkembang pada akhir dekade 60-an dan mencapai masa jayanya di tahun 70-an, menggabungkan elemen-elemen dari rock, jazz dan musik klasik. Kadang pengaruh dari blues dan musik tradisional juga terasa.

Selidik punya selidik, kecintaan terhadap musik yang dianggap sudah dan berat itu, dipengaruhi oleh Ian Antono, gitaris God Bless yang ayah kandung Evan dan Rocky. Tapi Evan dan Rocky menolak, jika dikatakan musik mereka "mentah-mentah" adalah adaptasi dari pengaruh ayahnya. "Kalau pun tidak ada nama Ian Antono sebagai music director/di album kami ini, musik yang kami mainkan rasanya akan tetap seperti sekarang ini," kilah Evan dan Rocky ketika diwawancara TEMBANG.com di EMI Jakarta, Selasa [25/7/2006] lalu.

Pada tahun 2006, GALAGASI merilis album yang diberi titel "TENTANG MANUSIA". Sebelumnya, tahun 2004 silam, mereka sempat dilibatkan dalam proyek Tribute to Ian Antono lewat lagu "Yang Hilang". Ada perbedaan karakter mendasar, dalam lagu awal dengan album sekarang. "Mungkin karena dalam album tribute, kita harus berpatokan pada benang merah lagu-lagu lain yang dinyanyikan band-band lain juga, jadi tidak bisa lepas seenaknya," celetuk Rocky.

Menyimak album perdana yang menyodorkan single "Tentang Manusia, kita seperti dibawa pada ritme-ritme rock ala God Bless. Album "TENTANG MANUSIA" sendiri banyak bertutur tentang persoalan cinta dan soal. Penulis mencermati track Gelap Dunia yang punya lirik cukup tajam. "Lagu ini tercipta ketika bom sering meledak di Jakarta. Supaya tidak terkesan verbal, GALAGASI mengemasnya dengan kata-kata berablut cinta. "Tapi ini cinta yang lebih humanis," kata Ferhat, sang vokalis.

www.tembang.com

Read More......

DEAD VERTIKAL


DEAD VERTICAL: Generasi Agresif European Grindcore. SCENE grindcore di Indonesia "diam-diam" merangsek terus. Meski sering dianggap sedang 'meredup' scene ini masih punya amunisi dan serdadu yang siap menghancurkan telinga dan kelemahlembutan yang pura-pura.


Salah satu pasukan grindcore yang terus menyala adalah DEAD VERTICAL* Band asal Jakarta Timur ini sangat terpengaruh dengan band-band grindcore garis keras seperti Napalm Death, Terrorizer, Nasum, Sepultura, Misery Index, Rotten Sound, Leng Tâ??Che, Lock Up, Slayer. Jangan kaget kalau album terbarunya 'INFECTING THE WORLD' menjadi terdengar sangar, dan gelap.

Menilik latar belakang lahirnya band grindcore ini, DEAD VERTICAL ini bukanlah band kemarin sore. Mereka sudah terbentuk sejak 22 November 2001 silam. Personil awalnya adalah Iwan [vokal], BoyBleh [gitar], Bony [bass] dan Andriano [drum]. Karakter band yang awalnya mereka kembangkan adalah crust-grind dengan lirik bertema sosial.

Band yang bermakna 'matinya hubungan vertikal antara Tuhan dengan manusia' ini juga sempat mengalami pasang surut personil, ketika Andriano cabut dan digantikan Bimo. Selepas itu mereka sempat merilis album pertama 'Fenomena Akhir Zaman'[2003] yang melambungkan derajat mereka di scene grindcore.

Bukannya tambah solid, band ini malah kudu kehilangan personil lagi. Bimo cabut dan diganti Arya. Kemudian Iwan [vokalis] juga mundur sehingga Dead Vertical menyisakan tiga orang saja, Arya, Bony dan BoyBleh.

Tiga orang inilah yang sepakat tetap mengibarkan grindcore dengan lebih ganas dan keras. Apalagi saat mereka merilis EP 'Global Madness E.P' [2006], kelihatan sekali kalau mereka makin matang meski dengan personil minimalis. Dan harus diakui, jadwal manggung mereka di konser-konser mini lokal, makin meningkat sejak saat itu. Mereka menjadi line-up yang kerap ditunggu aksi panggungnya. Tak heran, ketika "dewa" grindcore NAPALM DEATH konser di Jakarta, mereka menjadi pilihan untuk menjadi band pembuka. Grinder belia asal Jakarta yang dipercaya membuka konser the godfather Napalm Death,tentu bukan sembarangan band.

Album 'INFECTING THE WORLD' sendiri digarap di Bandung lewat label metal Rottrevore. Berisi 22 lagu, banyak perbaikan yang mereka lakukan khususnya pada divisi sound yang makin tajam karakternya.

Pilihan European Grindocre bukan tanpa sebab. Agresif, kuat dan lebih menyayat adalah alasan mereka memainkan sound dengan karakter grindcore Eropa. Tapi perhatikan vokal BoyBleh yang sekarang kudu menjadi vokalis. Sound growlnya, makin matang meski sesekali meleset pada tune-tune yang tinggi.

Soal hajaran 22 lagu yag langsung tandas di album baru ini, DEAD VERTICAL tampaknya ingin memuaskan rasa dahaga meatlheads yang sebelumnya hanya kebagian EP-nya saja. Beberapa lagu terdengar menderu keras seperti 'Deadly Mouth, False Prayer' Hell of World' atau 'No Suicide' yang membabi buta. Mereka juga bicara soal agama yang selalu dilawan dengan agama lewat track 'Religion Againts Religion' atau raungan melolong di track 'Genocide Still Alive'.

DEAD VERTICAL mungkin memang belum sebesar band-band grindcore lainnya, tapi sebagai penerus dinasti grindcore yang konsisten tak bergerak dari scene yang "mengerikan" ini, DEAD VERTICAL bisa menjadi kekuatan baru yang tak terlewati. Are U Metalheads also? Please Come & Join to DEAD VERTICAL..

www.tembang.com

Read More......

Saturday, December 27, 2008

KEN A ROCK-HARRY ROESLI


DALAM bermusik, Harry Roesli memperlihatkan kedekatannya dengan musik rock. Walaupun begitu, dia tidak pernah disebut rocker. Rock Opera Ken Arok yang digelar di Gedung Merdeka, Bandung, 12 April 1975, mengusung musik rock dan mengangkat namanya setinggi langit. Namun, Harry sendiri cenderung menamakan kegiatannya itu Wayang Orang Kontemporer dan mengeluh bahwa Ken Arok terlalu dibesar- besarkan. Pergelaran yang banyak menarik perhatian itu dipentaskan lagi pada 2 Agustus 1975 di Balai Sidang, Jakarta.

ROMBONGAN penari berpakaian gemerlap, berkumis, dan berjanggut lebat muncul dari kiri panggung. Mereka duduk, lalu menggerakkan tangan ke atas seperti penari kecak dengan iringan musik hard rock. Kemudian dari panggung sebelah kanan muncul penari wanita yang berbusana putih perak. Rambut mereka semuanya kerinting bahkan ada yang kribo, seperti rambut penyanyi God Bless, Achmad Albar, atau Gito dari Rollies. Begitulah Rock Opera Ken Arok dimulai

Tokoh yang hidup pada abad ke-13 (1222-1247) itu dengan sendirinya mewakili kebengalan Harry. Ken Arok begitu muncul langsung mendeklamasikan sajak: Aku Ken Arok, yang engkau tunggu, engkau membeli karcis menontonku, uang seribu tidak sedikit, wahai teman kau tertipu, coba jika uang itu, kau jajankan di jalan Tamblong, tapi kini telah terlanjur, uangmu ada di saya.

Sajak itu menyatakan bahwa rock opera itu bukan apa-apa. Penonton yang dikibuli harap jangan kecewa karena mengharapkan apa-apa yang berlebihan. Walaupun demikian, uang penonton tetap tidak bisa dikembalikan. Penonton yang sebagian besar terdiri dari kaum remaja dan beberapa orang asing membayar tiket masuk antara Rp 500 dan Rp 1.000 justru tertawa terbahak-bahak.

Kiprah Harry dalam musik rock terus berlanjut. Bersama God Bless, Gipsy, Voodoo Child, Giant Step, Rollies Paramour, Odalf, Freedom of Rhapsodia, dan Yeah Yeah Boys, Harry Roesly and His Gang tampil dalam pesta musik udara terbuka Kemarau 75 di lapangan Gedung Sate, Bandung, 31 Agustus 1975.

Sebelumnya dia juga ikut bersama belasan grup musik pada pesta musik semalam suntuk, Summer 28, tanggal 16 Agustus 1973 di Pasar Minggu, Jakarta. Pemusik bengal ini mamang tidak mau diam, ada saja yang dilakukannya. Dia tidak pernah ambil pusing manggung di mana. Di sebuah kafe yang pengunjungnya cuma seratus orang juga jadi. Lapangan terbuka yang ditonton puluhan ribu orang, apalagi.

Rock Opera Ken Arok-nya di bawa ke mana-mana, termasuk ke Semarang pada Januari 1976. Tetapi, di kota ini Harry kena batunya. Pergelarannya dihentikan oleh yang berwajib, dengan alasan naskah pertunjukan terlambat tiba di meja pemberi izin. Pencekalan pergelaran memang sering terjadi pada masa Orde Baru. Itulah sebabnya Harry ikut menandatangani Pernyataan Mei bersama seniman lainnya menolak hambatan atas karya seni. Sembilan tahun kemudian, April dan Mei 1995, pergelaran Harry juga batal tampil karena soal izin. Yang jelas, pencekalan itu bukan karena musik rock atau jenis musik lain yang diramu Harry, melainkan karena bahasa liriknya tidak mengena pada bahasa penguasa waktu itu.

Harry tidak mau pusing-pusing. Karyanya jalan terus. Bersama Leo Kristi, ia tampil dalam malam Apresiasi Seni Mahasiswa di Gelanggang Mahasiswa Kuningan tanggal 3 Desember 1977, kemudian Pagelaran Musik Konkrit Harry Roesli selama tiga hari, 31 Juli hingga 1 Agustus 1980. Motor trail, skuter, sepeda motor Yamaha dan Honda bebek dijejerkan di depan studionya dengan mesin dihidupkan, lalu masing-masing digas keras-keras dalam pergelaran musik Sikat Gigi.

Bereksplorasi dan menjelajahi daerah-daerah musik yang baru, seperti memanfaatkan gemuruh suara air terjun dari kotak pengeras suara elektronik disusul kesenyapan tiba-tiba, dilanjutkan dengan suara kertas diremas di depan mikrofon. Semua itu dilakukannya bersama DKSB (Depot Kreasi Seni Bandung) di berbagai panggung.

Menyusul Off the Record, kemudian ia membuat kejutan lainnya dengan tampil di pub, main musik disko bersama dedengkot jazz Bubi Chen. Masih banyak yang dilakukannya sepanjang tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Akibatnya, pada hari Minggu 1 Agustus dia digotong ke rumah sakit Borromeus, Bandung

Akan tetapi, Harry Roesli bukanlah Harry Roesli kalau sekeluar dari rumah sakit langsung tetirah ke tempat yang tenang untuk memulihkan kesehatannya. Teman-temannya berdatangan, dari menjenguk akhirnya menjadi arena ngobrol. Yang ujung-ujungnya menjadi berbagai kesibukan bermusik, berdiskusi, dan sebagainya. Bersama DKSB dan remaja SMA Blue Enterprises, digelarnya Over Dosis, 30 April-1 Mei 1994, di Gedung Kesenian Akademi Seni Tari Indonesia Bandung. Masih di Bandung, Harry mementaskan "Pertunjukan Pembicaraan" dengan membaca puisi, tetapi ia tidak meradang atau berteriak di antara gebukan perkusi serta geraman masif synthesizer sebagaimana biasanya.

Pada tahun 1995 Opera Tusuk Gigi, setelah itu ia membuat heboh di di A Mild Jak Jazz ’95 dengan memukul 13 tong kosong. Tahun berikutnya, Konser Musik Generasi Koplo di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 23 April 1996, dengan pengeras suara berkekuatan belasan ribu watt mengepung penonton. Seterusnya bisa diduga, Harry kembali masuk rumah sakit, demikian berita di koran-koran di Bandung, Jakarta, dan kota besar lainnya di Indonesia, 1 November 1996.

Setelah empat bulan dilumpuhkan penyakit misterius sampai pingsan dan keluar masuk rumah sakit, akhir Januari 1997 Harry menyatakan dirinya sudah sembuh dan merasa segar bugar. Kalau sudah begitu, tentu saja dia sibuk lagi, antara lain mengikuti Ajang Festival Perkusi 8-9 Juli di arena Pekan Raya Jakarta. Ia juga tidak mau ketinggalan hadir di Festival Perkusi Jakarta 1997. Dilanjutkan dengan Musik Jazz Invalid 25 Jam 4 Menit di Pusat Kebudayaan Perancis, 26 Juli.

Lalu Harry Roesli and His Gang mengadakan reuni di Poster Café. 31 Oktober, Jakarta. Berlanjut di Bandung, 22 November, dengan misi ganda. Selain menghibur dan ajang kangen-kangenan, konser di Bumi Sangkuriang itu juga bermisi sosial untuk mengetuk hati dermawan menyisihkan sebagian uangnya bagi korban bencana alam di Papua.

Setelah berbagai panggung, giliran televisi menampilkan karya-karyanya. Bulan Ramadhan 1977 Harry mendapat "order-pesanan", membuat acara operet yang ditayangkan selama seminggu berturut-turut sebelum lebaran. Tapi, setelah itu Konser Musik Kontemplasi Jilid III yang direncanakan 22 Februari 1998 di Gedung Pusat Kebudayaan Perancis, Bandung, dicekal. Semakin dicekal, ternyata kreativitas Harry semakin bergelora. Pada 17 April DKSB tampil di Teater Utan Kayu, Jakarta.

Masih belum merasa puas, ia lalu menerbitkan tabloid Deru, dan Harry menjadi pemimpin redaksinya. Sementara itu, dia juga sibuk mengurus para pengamen dan mendidik mereka dengan ilmu musik. Tapi, lagi- lagi daya tahan tubuhnya tidak kuasa menunjang kreativitasnya yang sedemikian menggebu. Pada 25 Oktober 1998 Harry kembali diantar ke Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung.

Berbagai kegiatan musiknya itu menunjukkan bahwa Harry bukan pemusik rock. Sebagaimana musik lainnya, rock hanya salah satu medianya untuk berekspresi, terutama untuk kaum muda, inilah kelebihannya. Kelebihannya yang lain adalah mampu membuat orang tertawa pada setiap kesempatan meskipun yang sedang dibahas atau dimainkannya adalah musik serius, yang di tangan pemusik lain biasanya membuat penontonnya mengernyitkan kening. Secara terus terang Harry mengakui bahwa dalam berkarya dia memang berada dalam wilayah dua sistem nilai.

MENGAKU berangkat dari musik populer, ternyata Harry tak pernah melupakan kulitnya meski kemudian dia menghasilkan musik-musik seni dan kontemporer. Selama 26 tahun, tidak kurangi 25 judul kaset dirampungkannya.

Mulai dari Philosophy in Rock (1971), HR Solo I (1972), HR Solo II (1973), HR Solo III (1974), Kaki Langit Akustik (1975), Titik Api (1976) hingga Ken Arok (1977), HR Solo IV (1977) dan Focus (1977). Disusul Tiga Bendera (1977), Gadis Plastik (1978), LTO (1978), Daun (1979), Jika Hari Tak Berangin (1979) serta Kharisma I (1981). Dilanjutkan dengan Kharisma II (1982), Kota Gelap (1982), Zaman (1984), Kuda Rock ’n Roll (1986), Cas Cis Cus (1989), Asmad Dream (1990), Orang Basah (1991), Cuaca Buruk (1992), DKSB Book (1992), dan Si Cantik (1997). Beberapa hasil rekamannya itu diproduksi dan diedarkan di Australia, AS, serta beberapa negara Eropa.

Bisa dikatakan, Harry lebih produktif daripada para pemusik pop maupun rock umumnya industri rekaman negeri ini. Dalam kurun waktu yang hampir sama, God Bless hanya menghasilkan lima album, ditambah dengan solo album Achmar Albar juga masih di bawah jumlah milik Harry. Barangkali yang bisa menandingi Harry dalam jumlah album hanya Koes Plus dan Hetty Koes Endang.

Hasil rekaman Rock Opera Ken Arok pada tahun 1977 bahkan sempat menjadi rebutan dua produser, Apple Records dan Eterna, hingga harganya melonjak menjadi Rp 4 juta, tawaran yang sangat tinggi waktu itu. Kalau dihitung berdasarkan harga kaset tahun 1977, nilai rekaman Ken Arok itu sekarang berkisar antara Rp 100 dan Rp 200 juta.

Perbedaannya, motivasi Harry dalam berkarya adalah ketika mengerjakan musik untuk industri menggunakan pertimbangan pasar, sementara untuk musik seni berurusan dengan ekspresi. Tapi, sadar atau tidak dalam rekaman Rock Opera Ken Arok, Harry memadukan keduanya. Sementara dalam rekamannya yang lain, musik dan lirik juga sering bertentang dengan kehendak pasar. Walaupun demikian, kaset Ken Arok direspons masyarakat sangat positif, sebagaimana rekaman lagu pop manis yang waktu itu sedang meledak-ledak. Kalau sudah begitu, tidak salah jika Ken Arok di tangan Harry Roesli menjadi Ken A Rock.

Musik rock dalam falsafah pemusik tambun yang tingginya 166 cm, berat 85 kg, dan lahir di Bandung 10 September 1951 ini dijelaskannya sejak Harry Roesli and His Gang pertama terjun ke dunia rekaman dengan album Philosophy in Rock pada tahun 1971. Salah satu lagu berjudul Malaria, liriknya begini: Sprei tempat tidurmu, putih/itu tandanya kau bersedih, mengapa tidak kau tiduri/ kau hanya terus menangis/apakah kau seekor monyet, yang hanya dapat bergaya/kosong sudah hidup ini/bila kau hanya bicara, guling bantalmu kan bertanya/apakah yang kau pikirkan nona/kau hanya bawa air mata dan ketawa yang kau paksa/lonceng kamarmu kan berkata, mengapa nona pengecut/lanjutkan saja hidup ini, sebagai nyamuk malaria.

Pada saat itu, 34 tahun yang lalu, Harry menunjukkan bahwa dia tidak hanya piawai berlirik, tetapi juga menyelami musik rock lebih mendalam dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan pemusik kita yang merasa lebih rocker dibandingkan dengan pemusik rock Eropa atau Amerika Serikat.

Pengetahuan Harry tentang musik rock diteruskan dengan penelitian musik seni, yang membuatnya semakin tertarik setelah mengambil jurusan musik elektronik di Rotterdam Conservatorium di Belanda, 1977-1981. Sambil kuliah, manggung, dan menghadiri diskusi-diskusi, selama tiga tahun itu ternyata dia mampu menghasilkan sembilan album rekaman. Produktivitas yang luar biasa. Belum termasuk karya musiknya untuk teater dan film.

Dalam album Philosophy in Rock, Harry mengaku banyak dipengaruh berbagai jenis musik dari Brian Auger, Cannon Ball Adderly, Crusaders, War, dan Hampton Hawyes. Pada hakikatnya, filsafat, agama, dan musik adalah pokok hidup yang tidak ternilai harganya, ketiga- tiganya selalu bergandengan tangan, begitu Harry pernah mengatakannya pada suatu ketika tentang judul album perdananya itu.

Seluruh hadirin final Djarum Super Rock Festival X, 11 Desember 2004 di Stadion Tambaksari Surabaya, juga bergandengan tangan dalam mengheningkan cipta ketika diumumkan oleh pembawa acara Ovan Tobing bahwa hari itu Kang Harry telah berpulang.

THEODORE KS Penulis masalah industri musik

Read More......

GIANT STEP


Nama Giant Step memang tidak sefenomenal dan melegenda seperti halnya God Bless. Namun, grup era 1970-an asal Kota Bandung ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka membawakan lagu-lagu orang lain.

DENGAN kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani "melawan arus" pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri.

"Saat itu membawakan lagu sendiri dianggap aneh," kata Triawan Munaf, mantan pemain kibor dan vokalis Giant Step, yang juga sepupu Fariz RM dan ayah kandung penyanyi remaja Sherina. Namun, itulah kelebihan dan sekaligus trademark Giant Step.

Mereka juga termasuk band rock yang lumayan produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985. Tentu bukan hanya itu, Giant Step pun termasuk dari sedikit band rock pribumi yang berkiblat pada jenis musik progresif (yang pada masa itu lebih sering disebut sebagai art rock) yang diusung grup-grup Inggris, seperti King Crimson, Jethro Tull, Pink Floyd, Gentle Giant, Yes, Genesis, dan ELP (Emerson, Lake, and Palmer).

JIKA The Beatles memiliki "dwitunggal" Paul McCartney dan John Lennon, Stones dengan Mick Jagger dan Keith Richards, atau Zeppelin dengan Robert Plant dan Jimmy Page, Giant Step pun memiliki "dwitunggal" yang bisa dianggap sebagai roh atau nyawa bagi grupnya, yaitu Benny Soebardja dan Albert Warnerin. Benny dan Albert dikenal sebagai pemain gitar dan penulis lagu yang produktif. Kedua orang inilah yang membidani kelahiran Giant Step pada awal 1970-an di Bandung, kota yang sering dijuluki sebagai gudangnya para seniman musik yang kreatif.

Sebelum bergabung dengan Giant Step, Benny-antara lain bersama Boetje Garna, Deddy Garna, Soman Lubis, dan Bhagu Ramchand-pernah ikut memperkuat band-band rock Bandung seperti The Peels dan Shark Move. Yang terakhir ini pernah merilis album Ghede Chokra’s (1973) dengan label perusahaan rekaman di Singapura.

Satu-satunya album Shark Move itu lumayan sukses dan menghasilkan hit seperti My Life dan Bingung. Juga ada lagu-lagu lainnya yang selain kuat liriknya juga enak dinikmati, seperti Butterfly, Insan, dan Madat.

Sebagaimana Benny, Albert pun termasuk salah seorang musisi andal asal Kota Kembang itu. Di samping gitar, ia juga menguasai beberapa alat musik lainnya, antara lain suling. Albert juga banyak terlibat dalam proyek musik grup-grup Bandung seperti Gang Of Harry Roesli.

Nama Giant Step sendiri, menurut Benny, diambil dari sebuah stiker yang menempel di bungkus gitar milik Remy Sylado. Ceritanya, Benny, Yockie Soeryoprayogo, Deddy Stanzah (mantan Rollies), dan Sammy (mantan drummer Shark Move) pada tahun 1975 hendak manggung di kampus ITB. Namun, ketika itu belum ada nama untuk band mereka.

Lalu Benny yang melihat stiker itu langsung mengusulkan nama Giant Step. Dan sejak itu Giant Step, yang dimanajeri Gandjar Suwargani (pemilik Radio OZ Bandung), secara resmi diproklamasikan.

Formasi awal Giant Step tidak bertahan lama. Benny kemudian mengajak Adhi Haryadi (bass), Yanto Sudjono (drum), dan Deddy Dores (vokal dan kibor) untuk menggantikan Deddy Stanzah, Sammy, dan Yockie (yang kemudian bergabung ke God Bless). Tidak lama kemudian Albert Warnerin juga bergabung.

Pada tahun 1975 itu pula Giant Step mulai masuk dapur rekaman. Album pertamanya yang diberi judul Giant Step Mark-I (1976) yang berisi sepuluh lagu. Termasuk lima lagu berbahasa Inggris-Childhood And The Seabird, Far Away, Fortunate Paradise, Keep A Smile, dan My Life-yang liriknya ditulis oleh Bob Dook, warga Australia yang bermukim di Bandung.

Di album pertama ini warna musik Giant Step bisa dibilang masih gado-gado. Ada warna Purple, ELP, dan Gentle Giant. Bahkan, ada empat lagu berlirik cinta cengeng yang ditulis dan dinyanyikan Deddy Dores.

GIANT Step baru melahirkan komposisi yang sungguh-sungguh bernuansa musik rock progresif pada album kedua, ketiga, dan keempat, yaitu Giant On The Move! (1976), Kukuh Nan Teguh (1977), dan Persada Tercinta (1978). Semua lagu, baik lirik maupun musiknya, yang terdapat dalam ketiga album itu tergolong berani. Pasalnya, mereka sama sekali tidak berkompromi dengan selera pasar yang ketika itu masih didominasi lagu-lagu pop cinta remaja ala The Mercy’s dan Favourites Group.

Lagu-lagu yang terdapat di album Giant On The Move! bahkan semua liriknya ditulis dalam bahasa Inggris. Mereka mengangkat tema-tema sosial dan politik serta lingkungan, seperti Liar, Decisions, Waste Time, dan Air Pollution.

Di album ini formasi Giant Step mengalami perubahan, di mana posisi Deddy Dores (yang keluar karena membentuk Superkid dengan Jelly Tobing dan Deddy Stanzah) digantikan oleh Triawan Munaf dan posisi Yanto Sudjono digantikan oleh Haddy Arief. Triawan dan Haddy adalah mantan anggota Lizard, salah satu band rock Bandung yang pernah mendukung proyek solo Benny dalam album Benny Soebardja & Lizard (1975).

Masih dengan formasi yang sama, pada tahun 1977 Giant Step merilis album Kukuh Nan Teguh yang, berbeda dengan album sebelumnya, berisi 11 lagu berlirik Indonesia. Di album ini pula untuk pertama kalinya mereka memasukkan unsur lagu tradisional dan dua lagu instrumental (Dialog Tanya dan Dialog Jawab), yang sekaligus menunjukkan kepiawaian para personelnya, khususnya raungan gitar Albert dan permainan kibor Triawan yang untuk masa itu bisa dibilang luar biasa.

Kendati sangat dipengaruhi band-band progresif luar, musik Giant Step sesungguhnya lebih orisinal. Itu setidaknya jika dibandingkan dengan God Bless, yang sempat mengambil potongan lagu Firth Of Fifth karya Genesis di lagu Huma Di Atas Bukit.

Menjelang pembuatan album Persada Tercinta (1978), Triawan mundur karena alasan melanjutkan studi di Inggris. Posisinya digantikan Erwin Badudu, "yang skill-nya jauh lebih canggih daripada saya," kata Triawan. Sebelumnya Erwin sempat terlibat dalam pembuatan album solo Benny Soebardja, Gimme Piece Of Gut Rock (1975), yang musiknya juga digarap oleh para personel Giant Step dan Lizard.

Gut Rock adalah proyek album idealis kedua Benny yang seluruh liriknya berbahasa Inggris dan sebagian besar ditulis oleh Bob Dook. Konon Gut Rock semula disiapkan sebagai album Giant Step, tetapi entah kenapa kemudian diubah menjadi album solo Benny.

Seperti dua album Giant Step sebelumnya, nuansa rock progresif yang cukup rumit masih kental pada album Persada Tercinta. Namun, pada album kelima, Tinombala (1979), Giant Step tampak mulai berkompromi dengan selera pasar kala itu, dengan memasukkan lagu pop cinta komersial berjudul Lisa.

Pada saat itu formasi Giant Step kembali mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dengan keluarnya Albert Warnerin, yang posisinya digantikan oleh Harry Soebardja, mantan gitaris Lizard yang juga adik kandung Benny. Posisi Haddy Arief pada drum juga digantikan oleh Tommy sehingga formasi Giant Step pada periode ini adalah Benny, Harry, Adhi, Erwin, dan Tommy.

DENGAN formasi yang sama, mereka merilis album keenam yang diberi judul Giant Step Volume III (1980). Album Volume III (album ketiga di bawah label Irama Tara) ini bisa disebut sebagai album paling buruk yang pernah dihasilkan Giant Step.

Boleh jadi karena Benny sendiri-sebagai motor utama Giant Step-mulai disibukkan dengan proyek-proyek solonya. Sebagai penyanyi solo, nama Benny sempat melejit lewat lagu Apatis (karya Ingrid Wijanarko) dan Sesaat (Harry Sabar) dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada akhir 1970-an.

Dari sukses lagu Apatis dan Sesaat, yang warna musiknya sangat dipengaruhi album soundtrack film Badai Pasti Berlalu (karya Eros Djarot, Yockie, dan Chrisye) itu, Benny kemudian berkolaborasi dengan anak-anak Pegangsaan, khususnya Fariz RM, untuk membuat dua album solo dengan warna musik serupa, yaitu Setitik Harapan dan Lestari pada tahun 1980-an. Namun, kedua album ini kurang begitu berhasil di pasaran, setidaknya jika dibandingkan dengan album Badai maupun Di Batas Angan-Angan (Keenan Nasution) yang juga digarap oleh kelompok Pegangsaan.

Pada tahun 1985 Benny mencoba membangkitkan kembali Giant Step dengan melibatkan (lagi) Albert Warnerin, Triawan Munaf, Erwin Badudu, serta Jelly Tobing. Pada bulan Juni mereka merilis album Geregetan (1985).

Di album ini Giant Step tidak lagi sepenuhnya menyajikan warna musik progresif era 1970-an. Apalagi, kata Triawan, "Produsernya minta agar kita memasukkan sebuah lagu unggulan yang komersial." Toh, waktu itu mereka sempat tampil di TVRI membawakan lagu Geregetan dan Panggilan Jiwa.

Perjalanan Giant Step berakhir setelah mereka ikut tampil di acara demo solo drum Jelly Tobing pada tahun 1992. Berbagai upaya untuk menyatukan kembali mereka tak kunjung berhasil. Konon karena adanya perselisihan pribadi yang sulit didamaikan antara mantan "dwitunggal" Benny dan Albert.

Rupanya, fenomena dua tokoh kunci dalam satu band rock yang sulit disatukan kembali, tidak hanya dimonopoli grup-grup dunia seperti Lennon versus McCartney (The Beatles), Roger Waters kontra David Gilmour (Pink Floyd), atau Ian Gillan melawan Ritchie Blackmore (Deep Purple).

Riza Sihbudi Peneliti LIPI

Read More......

SLANK


The Beginning

Slank dibentuk tahun 1983. Dimulai sebagai band SMP Cikini Stone Complex (CSC), Bimbim (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), Uti (vokal) dan Well Welly (vokal). Band ini mengekspresikan kecintaannya pada lagu-lagu Rolling Stones. Namun sayang, grup ini tidak bertahan lama dan akhirnya membubarkan diri. Bersama dengan keponakannya Erwan dan Denny, Bimbim (drum) mulailah untuk membentuk suatu band baru Red Evil. Kiki yang mana adalah salah satu dari gitaris Cikini Stone Complex (CSC), bergabung dengan mereka. Seorang gitaris lain yang bergabung dalam Red Evil adalah Bongky.

Kalau Cikini Stone Complex (CSC) hanya menirukan Rolling Stones, Red Evil mempunyai suatu konsep bermain yang lebih baik, Red Evil mulai untuk mengarang lagu. Walaupun Red Evil sedang menyanyikan lagu-lagu Rolling Stones, mereka menyanyikannya dengan sangat menarik seperti dengan cara mereka, yang mana sembrono, slengean dan dengan menirukan gaya band asli main. Melihat gaya dan cara mereka bermain musik beberapa teman dan fans memanggil mereka SLENGEAN. Sejak Itu Red Evil berubah nama menjadi SLANK.

The Foundation

Orang tua Indonesia pada waktu itu sedang mengharapkan anak-anak mereka bisa menjadi suatu insinyur, dokter, akuntan, pemilik bank atau pekerjaan yang mereka kuasai. Aktif sebagai seniman atau pemusik sepadan dengan nganggur menurut pemikiran mereka. Beruntung Bimbim memiliki orang tua yang mendukung untuk menjadi pemusik 99%. Mereka dibiarkan berlatih dan berlatih dirumah mereka di Jl. Potlot 3/14. Dan hari ini tempat itu kita kenal sebagai home base SLANK’s.
Seiring waktu yang terus berjalan, pemikiran, rasa, perasaan, suasana hati dan sebagainya tak dapat dipungkiri. SLANK mulai berganti personel satu demi satu. Semangat Bimbim telah membawan suatu keberuntungan yang baik. Di formasi yang ke 13 ia mendapat pasukan besar untuk memasuki industri musik. Formasi itu adalah Bimbim (drum), Bongky (bass), Pay (gitar), Indra (keyboard), dan Kaka (vocal).

Their Debut

Pertama SLANK memulai dengan membawa tape demo mereka kesana-sini, dari satu produser ke produser yang lain, dari studio rekaman satu ke studio rekaman yang lain . Mereka semua menolak musik yang diusung SLANK. Akhirnya Indra Qadarsih, pemain keyboard pada waktu itu, memperkenalkan SLANK dengan Produser Boedhi Soesatio. Boedhi tertarik dengan musik SLANK. Budhi pikir SLANK mempunyai suatu campuran Pop, Rock n’ Roll, Blues dan Ethnic Indonesia yang sangat berbeda dari musik-musik pada tahun itu.
Perasaan bisnis Boedhi mengatakan ini adalah keuntungan. Album pertama SLANK adalah SUIT.. SUIT.. HE.. HE.. (Gadis ) di release 1991, dengan single MEMANG dan MAAFKAN yang mendapatkan penjualan terbaik dan membawa Slank untuk menerima penghargaan dalam BASF Award sebagai pendatang baru terbaik pada 1991. Sejak itu, SLANK menjadi terkenal dan mempunyai banyak fans di mana-mana di negeri ini.
Selanjutnya setiap tahun SLANK mengeluarkan album :
• Album 2 “KAMPUNGAN” - 1991
• Album 3 “PISS” - 1993
• Album 4 “GENERASI BIRU” - 1994
• Album 5 “MINORITAS” - 1995
formasi slank baru
slank Pictures, Images and Photos

The Moment of Truth… and Back on Track
Setelah Album kelima SLANK harus kehilangan tiga personel yaitu Bongky ( bass), Indra Q ( keyboard) dan Pay (gitar). Dengan hanya dua personel, Bimbim dan Kaka, SLANK mencoba untuk tetap bertahan. Mereka membuat album keenam, LAGI SEDIH, dengan bantuan dari teman Reynold (gitar) dan Ivanka ( bass). LAGI SEDIH, memperlihatkan kesedihan mereka yang ditinggalkan oleh personel- personel SLANK, yang di release tahun 1996.
Kesedihan menjadi lebih dalam ketika Reynold memutuskan untuk keluar dari SLANK ketika mereka bersiap-siap menghadapi promo album LAGI SEDIH. Para personel SLANK keliling mencari penggantian untuk Reynold. Pada waktu itu, Ivanka memperkenalkan Abdee Negara, dan Lulu Ratna, manajer pada waktu itu, memperkenalkanlah Ridho Hafiedz. Dua gitaris mempunyai karakter berbeda sehingga mereka memutuskan untuk mengajak Abdee dan Ridho untuk main. Lebih dari 100 nyanyian diberikan kepada Abdee dan Ridho untuk dipelajari dalam waktu hanya dua minggu. Dengan pemain ini, SLANK kembali ke jalan rock dengan formasi yang ke 14.

Slank kembali dengan pemain baru dan album baru yang lain :
• Album 7 – TUJUH released 1997
• Album 8 – MATA HATI REFORMASI released 1998
• Album 9 – 999+09 released 1999 (double album)
• Album 10 – VIRUS released 2001
• Album 11 – SATU SATU released 2003
• Album 12 – ROAD TO PEACE released April 2004
• Album 13 – PLUR released December 2004
• Album 14 – SLANKISME released 2006
• Album 15 – SLOW BUT SURE released 2007
• Album 16 – THE BIG HIP released 2008
• Album 17 – ANTHEM FOR THE BROKEN HEARTED released 2008

Read More......

FORGOTTEN


FORGOTTEN: Nyawanya Adalah Pemberontakan, Kematian & Kutukan. PEMBERONTAKAN itu bisa lahir karena banyak sebab. Sebab budaya, sosial atau politik [mungkin ini yang kerap muncul]. Tapi pemberontakan juga bisa lahir karena melihat ketimpangan dan gerah dengan lingkungan yang membuat seseorang [atau peer-group] terkungkung. Munculnya dalam banyak bentuk, salah satunya adalah gerakan musikal yang keras, liar dan punya lirik meledak-ledak.

Titik tolak itu mungkin bisa memberi gambaran dari lahirnya band death metal asal Ujung Berung Bandung,* FORGOTTEN.* Bermual dari sekumpulan anak muda yang gelisah dengan lingkungannya yang padat oleh industri pabrik, kumuh dan lingkungan mulai sesak, akhirnya mereka mencari solusi dengan "berteriak" lewat medium musik dan death metal adaalah pilihannya.

Tahun 1994 silam, Ferly [gitar], Toteng [gitar], Kardun [bass], Addy Gembel [vokal] dan Kudung [drum] memproklamirkan lahirnya FORGOTTEN. Mereka meretas jalan panjang menjadi band indie yang lahir dari komunitas msuik 'homeless crew' di Ujungberung.

Tiga tahun sesudahnya, Januari 1997, band ini merilis album perdana 'Future Syndrome' yang direkan di Palapa Studio Bandung. Materinya enam lagu berlirik Inggris dirilis oleha label Palapa Record. Hebatnya, peredarannya menembus Asia. Malah kemudian menggandeng Morbid Record untuk masuk pasar Eropa.

Respon yang positif membuat FORGOTTEN bersemangat untuk kembali merilis album. Dengan materi dua single, Maret 1998 band ini kembali menggedor pasar dengan titel 'OBSESI MATI Promo Tape 98' yang juga dirilis lewat jalur indie oleh Rock Record. Sayangnya, Ferly --gitaris-- kemudian memilih mundur. Padahal beberapa proyek kompilasi sedang digarap.

Toh hidup dan berkarya terus berjalan. Februari 2000, FORGOTTEN malah kemudian bersiap-siap dengan full album ke-2. 10 materi yang "mengerikan" direkam di Studio Rehearsal 40124 Bandung. Kelar produksi, Agustus 2000 album kedua 'OBSESI MATI' dirilis oleh Soul Production. Lagu-lagi mereka harus kehilangan personilnya, lantaran Kudung [drumer] mengundurkan diri dan digantikan [sementara] oleh Andris, drumer band death metal lain, Disinfekted.

FORGOTTEN tak sempat berdiam diri. Masuk Juli 2001, mereka menggarap empat lagu berbahasa Indonesia di Bintang 41 Studio Bandung. Jangan kaget, e.p itu berjudul 'TUHAN TELAH MATI' yang dirilis Agustus 2001 oleh label Indie Record. Band ini kembali harus kehilangan personil, Kardun [bass] juga pilih mundur dari line-up karena alasan pribadi. Apa boleh buat, Dikky dari PostMortem pun digaet sebagai additional. Tahun 2003, band "mengganas" dengan album bertitel 'TIGA ANGKA ENAM.' Mungkin inilah album "tersarkastis' yang pernah mereka rilis. Liriknya makin kasar, keras dan meledak-ledak. Tapi di era inilah, Andris [drum] keluar dan sementara digantikan oleh additonal drum dari Motordeath.

Kini band "terganas" ini kembali dengan album terliarnya, 'TIGA ANGKA ENAM' yang dirilis ulang oleh RottreVore Record Jakarta. Ada 10 lagu yang kejam dan ganas dan siap menghardik setiap hadangan. Jangan "tertipu" dengan judul album yang mengesankan band ini seperti "iblis" tanpa ampun. Mereka tetap manusia yang kritis dan memilih lirik "gelap" sebagai pelampiasan kegeraman mereka akan kondisi dunia yang menyebalkan ini. Tapi percayalah, FORGOTTEN [dengan line-up Hendra/drum, Dicky/bass, jateng Kampret/gitar, Addy Gembel/vokal] bukan penyesat, itu pasti!

www.tembang.com

Read More......

SIKSA KUBUR


SIKSAKUBUR pertama kali di bentuk pada 6 july 1996. nama ini diambil dari band yang menjadi tolak ukur mereka dalam bermusik yaitu SEPULTURA yang berarti kuburan band memulai debut nya dari event-event UNDERGROUND mulai menarik perhatian para pecinta musik DEATH METAL dibulan july hingga september tahun 1996 SIKSAKUBUR mulai masuk studio rekaman yang bernama K-studio yang mengemas 9 lagu yang dituangkan dalam sebuah album THE CARNAGE yang dirilis dan didistribusikan oleh EXTREME SOUL PRODUCTION dalam sebuah kaset & CD. Album ini mendapat tanggapan yang positif dari kalangan pemerhati musik UNDERGROUND khususnya album ini terjual 1000 keping CD & 500 copy kaset, walaupun kwalitas dari album ini sangat kurang dikarenakan minimnya perlengkapan studio rekaman.

Sukses dengan album pertamanya bulan November 2001 SIKSAKUBUR merekam 9 lagu dan dibubuhi 1 (intro) yang dituangkan kedalam album kedua BACK TO VENGEANCE yang didistribusikan oleh ROTTREVORE records dalam sebuah format kaset, penjualan album ini termasuk fantastis dalam kurun waktu 1 bulan telah terjual 750 copy kaset walaupun hasil rekaman inipun masih kurang sempurna tapi lebih baik dari album pertama. SIKSAKUBUR mulai merambah event-event di Indonesia khususnya dipulau jawa hingga bali.

Formasi album THE CARNAGE and BACK TO VENGEANCE adalah Japra (vocal), Andyan gorust (Drum), Ade godel (gitar), Burgenk (Bass) tapi setelah album kedua dirilis ADE GODEL mengundurkan diri dari SIKSAKUBUR karena tidak bisa membagi waktunya dengan band, disusul dengan BURGENK yang mengundurkan diri dari band karena harus melanjutkan study keluar negeri. Posisi ini di gantikan oleh Andre yang juga gitaris REVITOL dan Yudhi bebek ex- AUTHORITY, dengan formasi ini SIKSAKUBUR mengeluarkan album ke tiga yang bertitel EYE CRY album ini dirilis dan didistribusikan oleh ROTTREVORE records dalam format CD dan KASET album inilah yang membuat SIKSAKUBUR mendapat perhatian lebih dari media massa dan elektronik.

SIKSAKUBUR merambah event-event bukan hanya event UNDERGROUND saja tapi event yang bukan UNDERGROUND sampai pentas seni sekolah SIKSAKUBUR menjadi headliner dalam acara tersebut ini sebagai bukti bahwa musik DEATH METAL yang dimainkan oleh SIKSAKUBUR mulai mendapat perhatian lebih, bukan hanya di Indonesia tapi hingga mancanegara khususnya SINGAPURA dan MALAYSIA. Karena july tahun 2005 lalu SIKSAKUBUR menjadi headline pada sebuah event metal di singapura. Album THE CARNAGE dan BACK TO VENGEANCE akhirnya dirilis oleh FROM BEYOND record (belanda) ini adalah sub label dari DISPLASEDrec yang merupakan salah satu label METAL besar di amerika album ini dikemas kedalam bentuk CD yang didistribusikan Bukan hanya di ASIA tapi benua EROPA dan AMERIKA.

Setelah lebih dari 10 thn berkiprah di Blantika musik metal Indonesia SIKSAKUBUR telah merilis 4 AlbumPodi yaitu THE CARNAGE, BACK TO VENGEANCE, EYE CRY dan PODIUM yang juga merupakan album terakhir dari drummer sekaligus pendiri SIKSAKUBUR yaitu ANDYAN GORUST. Namun setelah mengalami masa2 sulit dan masa pencarian pemain drum, akhirnya SIKSAKUBUR mendapatkan drummer baru yaitu PRAMA [ ex- ALEXANDER.LAST SUFFER] . Namun masalah belum selesai, YUDI BEBEK pun mengundurkan diri karena masalah pekerjaan, namun EWIN (Eks, Bloody Gore/C.O.B/Extracensory) langsung menggantikan nya. dan SIKSAKUBUR pun siap untuk kembali dengan formasi baru ini….so WATCH OUT !!!!

rottrevorerecords.wordpress.com

Read More......

DEATH VOMIT


DEATH VOMIT terbentuk pada tahun 1995 di Jogjakarta: Dede (vokal), Wilman (gitar), Ary (bas) dan Roy (drum). Band ini terinfluences oleh SUFFOCATION – DEEDS OF FLESH – INTERNAL BLEEDING - PYREXIA. Pada awalnya memainkan musik death metal dan langsung membawakan lagu sendiri. Tidak berapalama lagu-lagu sendiri direkam dalam bentuk rehearseal demo dan mendapat respon positif dari pecinta musik underground Indonesia , Respon ini berlanjut dengan sering tampilnya DEATH VOMIT di luar kota Jogjakarta seperti Jakarta, Bandung, Purwokerto, Solo, Malang Surabya Denpasar walaupun sempat berganti formasi personel.

Tahun 1997 DEATH VOMIT ikut serta dalam album kompilasi underground Indonesia METALIK KLINIK I produksi Musica Records. Mulai saat itulah pementasan banyak dilakukan dan tetap menciptakan lagu sendiri. Hingga pada bulan Noivember 1999 DEATH VOMIT merilis album pertama “Eternally Deprecated” yang diproduksi secara D I Y (Do It Yourself) baik dari proses rekaman, produksi kaset sampai distribusi benar-benar murni dilakukan oleh DEATH VOMIT sendiri.Penjualan album ini terbilang lumayan sebanyak 1500 kaset. Hal ini membuat label Bandung Extreme Soul Production berniat merilis ulang album ini. Sampai saat ini kaset yang dirilis ulang telah terjual sebanyak 2200 kaset.

Dengan berjalannya waktu, DEATH VOMIT mengalami pergantian personel. Dan line up terkini DEATH VOMIT adalah Sofyan Hadi (Vokal/gitar) , Oki Haribowo (bass) dan Roy Agus (drum). Pada awal bulan Mei 2006 DEATH VOMIT rekaman album baru dengan judul “The Prophecy”di bawah label ROTTREVORE RECORDS yang akan beredar pada bulan Agustus 2006

Dengan berjalannya waktu, DEATH VOMIT mengalami pergantian personel. Dengan line up Sofyan Hadi (Vokal/gitar), Oki Haribowo (bass) dan Roy Agus (drum). Pada awal bulan Mei 2006 DEATH VOMIT rekaman album baru dengan judul “The Prophecy”di bawah label ROTTREVORE RECORDS yang akan beredar pada bulan Agustus 2006.“The Prophecy” bermaterikan 9 buah lagu yang sangat cepat,berkarakter sound Heavy mid-low,sebuah hasil dengan nilai 2 jempol!! Sebuah hasil karya yang bisa dijadikan tolak ukur untuk musik DEATH METAL INDONESIA…recording di lakukan di Studio Avila,Sleman-Jogjakarta yang sepenuhnya di pegang oleh Inal sebagai operator loading pada tanggal 6 – 14 Mei 2006,Mixing DEATH VOMIT di lakukan di Bintang 41 Studio recording tepatnya di Riung Bandung oleh Oteng Forgotten dan Sophyan ( guitar/vocal ) 17 – 22 mei 2006 . Mastering untuk DEATH VOMIT di mulai pada tanggal 1 – 3 Juni 2006 oleh Samuel Tanasyah di Warner Music Studio. Pengarapan seluruh layout cover dipegang oleh Bakuh dan Kenji seorang designer militan metal Jogjakarta.

Pada rilisan ini DEATH VOMIT juga merilis sebuah enhanced Cd yang kalian semua bisa melihat seluruh Interview dan seluruh sesi Recording DEATH VOMIT dalam bentuk visual audio.Semangat metal 14 Tahun yang membuat DEATH VOMIT semakin matang dalam meng arrangement lagu sebuah kekuatan mesin tempur yang dasyat.setelah tertidur cukup lama akhirnya pada bulan agustus 2006 DEATH VOMIT memuntahkan kemarahannya lewat album terbaru mereka yang berjudul “ The Prophecy “.

Pada tanngal 19 Juni 2008 DEATH VOMIT management dan ROTTREVORE RECORDS mengadakan sebuah konser tunggal yang bertajuk “DEATH VOMIT FLAMES OF HATE”, Acara dikemas sedemikian rupa dengan perpaduan Panggung, Tata sound dan Tata Cahaya yang spektakuler. Acara ini bertujuan untuk pembuatan Video Audio dalam kemasan DVD sebagai tolak ukur genre Death Metal Di jogja khususnya dan Indonesia Umumnya dan juga merupakan sebuah acara Dokumentasi Perjalanan Karir DEATH VOMIT Selama 12 Tahun.

Acara Jogjakarta Corpse Grinder Resurrection, 20 Agustus 2008, merupakan show terakhir Death Vomit dengan line up Sofyan Hadi (Vokal/gitar), Oki Haribowo (bass) dan Roy Agus (drum), karena Sofyan Hadi sang vokalis mengundurkan diri. Sampai saat tulisan ini belum ditetapkan siapa yang akan mengisi vokal dan gitar. Tetapi Death Vomit masih tetap eksis dengan aksi brutalnya dengan menggunakan additional player dalam setiap shownya.

rottrevorerecords.wordpress.com

Read More......

BUGERKILL


Ini merupakan sebuah cerita pendek dari 12 tahun perjalanan karir bermusik dari sebuah band super keras yang telah menjadi fenomena di populasi musik keras khususnya di Indonesia. Sebuah band yang namanya diambil dari selewengan sebuah nama restaurant fast food asal Amerika, ya mereka adalah Burgerkill band asal origin Ujungberung, tempat orisinil tumbuh dan berkembangnya komunitas Death Metal / Grindcore di daerah timur kota Bandung. Band lulusan scene Uber ( nama keren Ujungberung ) selalu dilengkapi gaya Stenografi Tribal dan musik agresif yang super cepat, Jasad, Forgotten, Disinfected, dan Infamy to name a few.

Burgerkill berdiri pada bulan Mei 1995 berawal dari Eben, scenester dari Jakarta yang pindah ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya. Dari sekolah itulah Eben bertemu dengan Ivan, Kimung, dan Dadan sebagai line-up pertamanya. Band ini memulai karirnya sebagai sebuah side project yang ga punya juntrungan, just a bunch of metal kids jamming their axe-hard sambil menunggu band orisinilnya dapat panggilan manggung. Tapi tidak buat Eben, dia merasa bahwa band ini adalah hidupnya dan berusaha berfikir keras agar Burgerkill dapat diakui di komunitasnya. Ketika itu mereka lebih banyak mendapat job manggung di Jakarta melalui koneksi Hardcore friends Eben, dari situlah antusiasme masyarakat underground terhadap Burgerkill dimulai dan fenomena musik keras tanpa sadar telah lahir di Indonesia.

Walhasil line-up awal band ini pun tidak berjalan mulus, sederet nama musisi underground pernah masuk jajaran member Burgerkill sampai akhirnya tiba di line-up solid saat ini. Ketika dimulai tahun 1995 mereka hanya berpikir untuk manggung, pulang, latihan, manggung lagi dst. Tidak ada yang lain di benak mereka, tapi semuanya berubah ketika mereka berhasil merilis single pertamanya lewat underground phenomenon Richard Mutter yang merilis kompilasi cd band-band Bandung pada awal 1997. Nama lain seperti Full Of Hate, Puppen, dan Cherry Bombshell juga bercokol di kompilasi yang berjudul "Masaindahbangetsekalipisan" tersebut. Memang masa itu masa indah musik underground. Everything is new and new things stoked people! Tidak tanggung lagu Revolt! dari Burgerkill menjadi nomor pembuka di album yang terjual 1000 keping dalam waktu singkat ini.

Setelah mengenal nikmatnya menggarap rekaman, anak anak ini tidak pernah merasa ingin berhenti, dan pada akhir tahun 1997 mereka kembali ikut serta dalam kompilasi "Breathless" dengan menyertakan lagu "Offered Sucks" didalamnya. Awal tahun 1998 perjalanan mereka berlanjut dengan rilisan single Blank Proudness, pada kompilasi band-band Grindcore Ujungberung berjudul "Independent Rebel". Yang ketika itu dirilis oleh semua major label dengan distribusi luas di Indonesia dan juga di Malaysia. Setelah itu nama Burgerkill semakin banyak menghias concert flyers di seputar komunitas musik underground. The Antics went higher, semakin banyak fans berat menunggu kehadiran mereka diatas panggung. Burgerkill sang Hardcore Begundal!

Disekitar awal tahun 1999, mereka mendapat tawaran dari perusahaan rekaman independent Malaysia, Anak Liar Records yang berakhir dengan deal merilis album Three Ways Split bersama dengan band Infireal (Malaysia) dan Watch It Fall (Perancis). Hubungan dengan network underground di Malaysia dan Singapura berlanjut terus hingga sekarang. Burgerkill menjadi langganan cover zine independent di negara-negara tersebut dan berimbas dengan terus bertambahnya fans mereka dari negeri Jiran. Di tahun 2000, akhirnya Burgerkill berhasil merilis album perdana mereka dengan title "Dua Sisi" dan 5000 kaset yang di cetak oleh label indie asal Bandung, Riotic Records ludes habis dilahap penggemar fanatik yang sudah tidak sabar menunggu sejak lama. Di tahun yang sama, band ini juga merilis single "Everlasting Hope Never Ending Pain" lewat kompilasi "Ticket To Ride", sebuah album yang benefitnya disumbangkan untuk pembangunan sebuah skatepark di kota Bandung.

Single terakhir menjadi sebuah jembatan ke era baru Burgerkill, dimana masa awal mereka lagu-lagu tercipta hasil dari pengaruh band-band Oldschool Hardcore, Name it: Minor Threat, 7 Seconds, Gorilla Biscuits, Youth of Today, Sick of it All, Insted, Etc. Seiring dengan waktu, mereka mulai untuk membuka pengaruh lain. Masuklah pengaruh dari band band Modern Metal dan Newschool Hardcore dengan beat yang lebih cepat dan lebih agresif, selain itu juga riff-riff powerchord yang enerjik menjadi bagian kental pada lagu-lagu Burgerkill serta dilengkapi oleh fill-in gitar yang lebih menarik. Anak-anak ini memang tidak pernah puas dengan apa yang mereka hasilkan, mereka selalu ingin berbuat lebih dengan terus membuka diri pada pengaruh baru. Hampir semua format musik keras dilahap dan di interprestasikan kedalam lagu, demikianlah Burgerkill berkembang menjadi semakin terasah dan dewasa. Lagu demi lagu mereka kumpulkan untuk menjadi sebuah materi lengkap rilisan album kedua.

Beberapa Mainstream Achievement pun sempat mereka rasakan, salah satunya menjadi nominator Band Independent Terbaik ala majalah NewsMusik di tahun 2000. Awal tahun 2001 pun mereka berhasil melakukan kerjasama dengan sebuah perusahaan produk sport apparel asal Amerika: PUMA yang selama 1 tahun mensupport setiap kali Burgerkill melakukan pementasan. Dan sejak Oktober 2002 sebuah produk clothing asal Australia: INSIGHT juga mensupport dalam setiap penampilan mereka.

Pertengahan Juni 2003, Burgerkill menjadi band Hardcore pertama di Indonesia yang menandatangani kontrak sebanyak 6 album dengan salah satu major label terbesar di negeri ini, Sony Music Entertainment Indonesia. Dan setelah itu akhir tahun 2003, Burgerkill berhasil merilis album kedua mereka dengan title "Berkarat". Lagu-lagu pada album ini jauh lebih progressif dan penuh dengan teknik yang lebih terasah dibandingkan album sebelumnya. Hampir tidak ada lagi nuansa straight forward dan moshpart sederhana ala band standard Hardcore yang tercermin dari single-single awal mereka. Pada sector vocal dengan tetap mengedepankan nuansa depresif dan kelam, karakter vocal Ivan sang vokalis Bengal lebih berani dimunculkan dengan penulisan bahasa pertiwi dan artikulasi kata yang lebih jelas. Dan di sector musik pun, Toto, Eben, Andris dan gitaris baru mereka Agung semakin berani menjelajahi daerah-daerah baru yang sebelumnya tidak pernah dijajaki kelompok musik keras manapun di Indonesia.

Sebuah kejutan hadir pada pertengahan tahun 2004, lewat album "Berkarat" Burgerkill masuk kedalam salahsatu nominasi dalam salah satu event Achievement musik terbesar di Indonesia "Ami Awards". Dan secara mengejutkan mereka berhasil menyabet award tahunan tersebut untuk kategori "Best Metal Production". Sebuah prestasi yang mungkin tidak pernah terlintas di benak mereka, dan bagi mereka hal tersebut merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus mereka buktikan melalui karya-karya mereka selanjutnya.

Di awal tahun 2005 di tengah kesibukan mereka mempersiapkan materi untuk album ketiga, Toto memutuskan untuk meninggalkan band yang telah selama 9 tahun dia bangun bersama. Namun kejadian ini tidak membuat anak-anak Burgerkill putus semangat, mereka kembali merombak formasinya dengan memindahkan Andris dari posisi Bass ke posisi Drums dan terus melanjutkan proses penulisan lagu dengan menggunakan additional bass player. Sejalan dengan selesainya penggarapan materi album ketiga, tepatnya November 2005, Burgerkill memutuskan kontrak kerjasama dengan Sony Music Entertainment Indonesia dikarenakan tidak adanya kesepakatan dalam pengerjaan proyek album ketiga. So guys...these kids always have a great spirit to keep blowing their power, dan akhirnya mereka sepakat untuk tetap merilis album ke-3 "Beyond Coma And Despair" di bawah label mereka sendiri Revolt! Records di pertengahan Agustus 2006. Album ketiga yang memiliki arti sangat dalam bagi semua personil Burgerkill baik secara sound, struktur, dan format musik yang mereka suguhkan sangat berbeda dengan dua album sebelumnya. Materi yang lebih berat, tegas, teknikal, dan berani mereka suguhkan dengan maksimal disetiap track-nya.

Namun tak ada gading yang tak patah, sebuah musibah terbesar dalam perjalanan karir mereka pun tak terelakan, Ivan sang vokalis akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya ditengah-tengah proses peluncuran album baru mereka di akhir Juli 2006. Peradangan pada otaknya telah merenggut nyawa seorang ikon komunitas musik keras di Indonesia. Tanpa disadari semua penulisan lirik Ivan pada album ini seolah-olah mengindikasikan kondisi Ivan saat itu, dilengkapi alur cerita personal dan depresif yang terselubung sebagai tanda perjalanan akhir dari kehidupannya. "Beyond Coma And Despair" sebuah album persembahan terakhir bagi Ivan Scumbag yang selama ini telah menjadi seorang teman, sahabat, saudara yang penuh talenta dan dedikasi dengan disertai karakter karya yang mengagumkan. Burgerkill pun berduka, namun mereka tetap yakin untuk terus melanjutkan perjalanan karir bermusik yang sudah lebih dari 1 dekade mereka jalani, dan sudah tentu dengan menghadirkan seorang vokalis baru dalam tubuh mereka saat ini. Akhirnya setelah melewati proses Audisi Vokal, mereka menemukan Vicki sebagai Frontman baru untuk tahap berikutnya dalam perjalanan karir mereka.

Dan pada awal Januari 2007 mereka telah sukses menggelar serangkaian tour di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Bali dalam rangka mempromosikan album baru mereka. Target penjualan tiket di setiap kota yang didatangi selalu mampu mereka tembus, dan juga ludesnya penjualan tiket di beberapa kota menandakan besarnya antusiasme masyarakat musik cadas di Indonesia terhadap penampilan Burgerkill. A written story just wouldn't enough, tunggu kejutan dan dengarkan album baru mereka, tonton konsernya dan rasakan sensai musik keras yang tak akan kamu lupakan...BURGERKILL HARDCORE BEGUNDAL IN YOUR FACE, WHATEVER!!!

Diskografi

Beyond Coma And Despair
Revolt! Records, 2006

Track List:

1. Darah Hitam Kebencian
2. We Will Bleed
3. Shadow Of Sorrow
4. Laknat
5. Angkuh
6. Suffer To Death
7. Anjing Tanah
8. Last Escape
9. Agony Remains Insane
10. Atur aku
11. Beyond Coma And Despair
12. Unblessing Life

Dua Sisi Repacked
Sony Music Ent. Indonesia, 2004

Track List:

1. Heal The Pain
2. Revolt!
3. Let's Fight
4. M.T.P.M.
5. Hancur
6. Sakit Jiwa
7. My Self
8. Rendah
9. Homeless Crew
10. Blank Proudness
11. Everything Sux!
12. Everlasting Hopes Neverending Pain

Berkarat
Sony Music Ent. Indonesia, 2003

Track List:

1. Terlilit Asa
2. Penjara Batin
3. Berkarat
4. Luka
5. Tinggalkan Aku Terdiam
6. Resah Dera Jiwa
7. Hilang
8. Sejuk Sebuah Dosa
9. Gelap Tanpa Akhir
10. Tiga Titik Hitam


Dua Sisi
Riotic Records, 2000

Track List:

1. Heal The Pain
2. Revolt!
3. Let's Fight
4. M.T.P.M.
5. Hancur
6. Sakit Jiwa
7. My Self
8. Rendah
9. Homeless Crew
10. Blank Proudness
11. Everything Sux!
12. Guilty Of Being White (Minor Threat Cover)

Diskografi Lengkap

1. "Revolt!", "My Self", "Offered Sucks", Demo Tape, 1996.
2. "Revolt!", MASAINDAHSEKALIBANGETPISAN CD Compilation. 40.1.24 Records, 1997.
3. "Offered Sucks", "My Self", BREATHLESS HARDCORE Compilation, Manifest Records, 1997.
4. "Blank Proudness", INDEPENDENT REBEL Compilation, Independent Records (Aquarius Indonesia) & Pony Canyon Records (Malaysia), 1998.
5. "Heal The Pain", "Rendah", "Hancur", "Blank Proudness", 3 WAY SPLIT with INFIREAL (Malaysia) & Watch It Fall (Perancis), Anak Liar Records (Malaysia), 1999.
6. "DUA SISI", MC Album, Riotic Records, 2000.
7. "Everlasting Hope...Never Ending Pain", TICKET TO RIDE Compilation, Spill Records, 2001.
8. "Berkarat", MC&CD Album, Sony Music Entertainment Indonesia, 2003.
9. "DUA SISI REPACKED", MC&CD Album, Sony Music Entertainment Indonesia, 2005.
10. "BEYOND COMA AND DESPAIR" MC&CD Album, Revolt! Records, 2006.
11. "Shadow Of Sorrow" & "Angkuh", HANTU JERUK PURUT, Original Soundtrack Movie, Indika Ent. 2006.
12. "Laknat" & "Darah Hitam Kebencian", MALAM JUMAT KLIWON, Original Soundtrack Movie, Indika Ent. 2007.

Achievement

1. "Best Independent Band" nominator for NewsMusik magazine, Indonesia, 2000.
2. Exclusive 1 year Endorsement "PUMA Sport Apparel" USA, 2001.
3. Exclusive 2 years Endorsement "INSIGHT Clothing"Australia, 2002.
4. "Best Metal Production" Winner ("Berkarat", Sony Music Ent.) in AMI Awards, 2004.
5. One of Best Album ("Beyond Coma and Despair", Revolt! Records), RIPPLE magazine version, 2006.
6. 20 Indonesian Best Album ("Beyond Coma and Despair", Revolt! Records), Rolling Stone magazine version, Indonesia, 2006.

www.burgerkillofficial.com

Read More......

U9


Lewat lagu ciptaan sendiri berjudul Ilusi, dan lagu bebas berjudul Musisi milik God Bless, akhirnya kelompok musik yang cikal bakal terbentuknya dari band sekolah di SMP I Kediri ini dinobatkan sebagai grup rock terbaik dari 500-an peserta Djarum Super Rock Festival IX, setelah berhasil menyisihkan 9 rivalnya di grand final, yang digelar Stadion Tambaksari - Surabaya, 25 Agustus 2001.

Tampilnya Ungu 5 yang kemudian berganti nama jadi U9 sebagai juara pertama di festival tersebut sekaligus membuka peluang dan kesempatan untuk masuk ke jalur rekaman. "Itu yang kita tunggu-tunggu," aku Ferdi, dramer U9. Apa yang jadi impian sekaligus obsesi grup rock asal Kediri yang diperkuat Hendra (vokal), Tyo (gitar 1), Sunu (gitar 2), Iwan (bas), Nanda (kibor), dan Ferdi (dram), akhirnya jadi kenyataan dengan dirilisnya debut album mereka bertajuk The Champion Of “All Indonesian Rock Festival IX (2001), yang dirilis Juni 2004.

Mereka juga masih ingat ketika lagu Ilusi sempat dikritik oleh salah satu juri di festival tersebut, banyak dipengaruhi warna Dream Theater. Mereka tidak menampik kalau Dream Theater banyak memberi pengaruh ke U9. Pasalnya semua personel U9 ini pengagum berat grup tersebut. "Di panggung kita paling sering membawakan lagu-lagu mereka. Kebetulan musik kita lebih ke progresif rock," kata Hendra. "Kebetulan kita semua menyukai progresif rock, sehingga rock yang kita mainkan arahnya lebih ke situ, ke rock progresif" sambung Ferdi, yang terpilih sebagai penggebuk dram terbaik Djarum Super Rock Festival IX.

Soal konsep musik albumnya sendiri, menurut Hendra, lebih ke progresif rock. Tapi progresif rocknya tidak serumit grup idola mereka, Dream Theater. Diakui, untuk memainkan progresif rock tingkat kesulitannya cukup tinggi, tapi justru itu yang jadi tantangan personel U9. "Kebetulan sekarang ini nggak banyak grup band yang ke sana, justru U9 arahnya ingin ke prog rock,” kata Ferdi menambahkan.

Nama awalnya Ungu (saja). Dan dengan nama itulah mereka sukses menjadi kampiun Festival Rock Se-Indonesia IX tahun 2001 lalu di Jakarta. Band asal Kediri ini sukses menjadi juara pertama. Dalam perjalanannya kemudian, mereka 'terbentur' soal nama band yang sama dengan band asal Jakarta, yang mengusung pop rock. Akhirnya mereka mengbah (sementara) menjadi Ungu Five. Sempat menjadi pembuka konser Jamrud di Malang, nama band ini kemudian seperti meredup.

Tiba-tiba, nama mereka disebut-sebut kembali, Selasa (8/6/2004) di HardRock Cafe Jakarta, sekumpulan anak muda ini muncul dalam konperensi pers bareng Log Zhelebour. Rupanya mereka merilis album dan mengusung nama baru U9. Beginilah alasan Log,"Perubahan nama ini untuk menghindari kesamaan dengan band yang bernama sama. Sementara angka sembilan karena mereka pemenang festivakl yang ke 9. Semoga bisa bawa hoki," kata Log berseloroh.

Melihat jenjang perjalanan band ini, sebenarnya tak bisa dibilang band baru. U9 terbentuk 11 September 1997 di Surabaya Jawa Timur. Personil awalnya Ferdi Iskandar (dramer), Nanda Iskandar (kibor), DaniIwan Prast (basis), dan Hendra Darmawan (vokal). Untuk kelas lokal Jawa Timur, siapa yang tidak kenal dengan band yang berhomebase di Kediri ini. Beberapa festival kecil yang mereka ikuti, memberikan banyak gelar the best kepada band dan personilnya. Sampai akhirnya juara di festival rock.

Dalam perjalanannya, Ungu Five harus merelakan Dani (gitaris) yang keluar karena alasan pribadi dan merekrut Tyo sebagai gitaris baru. U9 memilih progresif rock sebagai aliran yang mereka anut dengan ertimbangan art rock terkenal dengan tingkat kesulitannya dan mereka bangga sekali kalau bisa memainkan komposisi yang sulit dengan bagus tetai tidak setiap konser mereka memainkannya karena tidak semua rang menyukainya.

U9 juga tak akan menampilkan progresif yang njilmet dalam albumnya nanti, mereka buat pregresi yang ada unusr sweet dan harmoni. Dengan durasi yang lebih pendek. Soal pengaruh musik, Ungu Five mengaku sebenarnya terinspirasi secara personil saja. bagi mereka musik mereka adalah musik pendidikan.

Untuk album barunya ini, mereka memberi judul U9 1st Album The Champion Of "All Indonesia Rock Festival IX" yang mengandalkan hits Salah Aku. Kini mereka beranggota Hendra (vokal), Tyo (gitar), Sunu (gitar), Iwan (bas), Nanda (kibor), dan Ferdi (dram).

Kepada band ini, Log malah sempat melempar pujian, "Mereka sudah punya kematangan bermusik."
Untuk video klip, U9 malah sudah membuat dua klip Salah Aku dikerjakan oleh Jose Purnomo dan Masih Cinta yang digarap Firlan. Untuk album ini, masteringnya digarap di Studio 301 Australia.

BAND asal Kediri ini sekarang siap "bertempur" lagi di kancah musik Indonesia. Apalagi kini mereka sudah diperkuat amunisi baru seperti John Paul Ivan, mantan gitaris Boomerang yang bergabung dengan line-up lain seperti Ferdi [drum], Hendra [vokal] Sunu Kidal [gitar], Nanda [kibord], dan personil baru lainnya, Eenk [bass].

Ivan sebagai personil baru, sudah terlibat dalam penggarapan album baru U9 yang diproduseri oleh Log Zhelebour, awal desember 2005 lalu. Proses recordingnya dilakukan di Studio Logiss Jakarta, dan rencananya albumnya sudah beredar di bursa musik tanah air sekitar awal Maret 2006.

U9 sendiri akhirnya juga harus kehilangan Iwan [bass] yang mengundurkan diri. Iwan adalah personil yang ikut membawa U9 [masih bernama Ungu --red] sebagai jawara Festival Rock versi Log Zhelebour ke-IX, 2001 silam. Personil sebelumnya yang mengundurkan diri adalah Tyo [gitaris] yang digantikan oleh Ivan.

Sedikit tentang album baru, Hendra yang dkontak TEMBANG.com menjelaskan, ada sekitar 38 lagu yang ditawarkan. "Tapi akhirnya dipilih 12 lagu yang terbaik untuk mengisi album baru kita," terang cowok bermata sipit ini kalem.

Ivan sendiri mengaku, meski lebih senior di banding personil U9 lainnya, tapi sebagai personil baru dirinya akan ikut aturan main yang sudah disepakati oleh majamen Log Zhelebour selaku produser. "Yah, saya harus ikut aturan main mereka. Apalagi saya personil baru," terangnya pada suatu kesempatan.

U9 tampaknya siap menjadi magma baru rock Indonesia. Personil baru yang lebih segar, diharapkan bisa membawa band Kediri ini ke tempat yang lebih tinggi lagi.

Read More......

PRISA RIANZI


Nama: Prisa Rianzi
Nama Lengkap: Prisa Adinda Arini Rianzi
Tempat/Tgl Lahir : Jakarta / 6 Januari 1988
Tempat Tinggal Sekarang : Jakarta
Gitar : Jackson DKMG Arch Top, Jackson USA Randy Rhoads RR1, Fender USA Telecaster Flathead Custom Shop, Ibanez Universe 7-String UV777BK, Martin & Co X series & Fender Strat Eric Clapton
Efek : Boss Reverb RV-2, Tonebone Hot British, Ibanez Tube Screamer 808
Ampli : Mesa Boogie Single Rectifier, Roland Cube 30
Group Band Saat ini : Vendetta
Pengalaman Band : Dead Squad, Zala
Pengaruh Musikal : Lamb Of God, Arch Enemy, Killswitch Engage, Children Of Bodom, Spawn Of Possesion, John Mayer, Tahiti 80, Mae, Dashboard Confessional, Copeland, Jimmy Eat World,
Style Permainan : Metal, Pop
Teknik Favorit : Power Chord, Arpeggio

Prisa pertama kali belajar gitar karena kebetulan. Sewaktu masih SMP, Prisa tinggal di asrama kemudian iseng maenin gitar punya temannya. Gara-gara dimarahin sama yang punya gitar, akhirnya Prisa bertekad balas dendam dengan ikut ekskul gitar. Akhirnya Prisa dan temannya ikut ekskul barengan sambil balapan siapa yang nantinya lebih jago.

Tahun 2005 sampai pertengahan tahun 2006 nama Prisa cukup dikenal di scene underground bersama band metalnya, Zala. Band ini cukup menyita perhatian lantaran isi personelnya cewek semua. Tapi tidak hanya sekedar menjual image saja, skill mereka juga tidak kalah sama band-band cowok. Tahun 2006 bisa dibilang sebagai tahun emasnya Prisa dimana karirnya baik secara pribadi maupun kelompok makin sukses. Secara pribadi, ia terpilih menjadi model untuk portal gitar pertama di Indonesia, Gitaris.com. Ia juga sering disebut sebagai Miss Gitaris.com karena selalu menjadi wakil Gitaris.com di berbagai event dan media. Bersama bandnya, Zala, ia beberapa kali tampil di event metal underground bahkan sampai Java Jazz 2006.

Bulan Juni 2006 kemudian Prisa tergabung dalam band baru bernama Dead Squad. Di band ini ia berpasangan dengan salah satu gitaris dari keluarga Item yang juga merupakan personel Andra & The Backbone, Stevie Item. Kemudian pada bulan Juli Prisa mendapat kehormatan untuk berkolaborasi dengan salah satu maestro gitar Indonesia, Eet Sjahranie dalam penampilan Edane di PRJ. Bersama Edane, Prisa tampil membawakan lagu Cry Out dan Kau Manis Kau Ibliz. Selain itu ia juga dikontrak selama 2 bulan sebagai additional gitaris dan backing vocal untuk 'band sejuta copy', Sheila On 7, yang baru ditinggal salah satu gitarisnya. Bersama SO7 sempat tampil di SCTV dalam acara World Cup 2006 dan ikut dalam tour hingga ke Malaysia.

Tahun 2006 Prisa telah memutuskan untuk berhenti dari dunia pendidikan akademis dan memilih untuk terjun sebagai musisi profesional. Langkah yang diambil oleh Prisa untuk masuk ke industri musik adalah merilis album solo perdananya yang beraliran pop. Rencananya album tersebut akan dirilis setelah lebaran tahun 2007. Sebelum albumnya dirilis ia terlebih dahulu tampil sebagai 'guest musician' di album ke-2 J-Rocks sebagai vocalis dan gitaris untuk single Kau Curi Lagi. Prisa juga memiliki side project lain yang ia beri nama Morning Star. Morning Star merupakan project iseng lain Prisa diluar album solonya. Hal ini menjadi pembuktian dari Prisa kalau ia juga mahir dalam permainan gitar akustik.

Bulan Juli 2007 Prisa diendorse oleh pihak Jackson Guitars. Ia dikontrak untuk menggunakan gitar Jackson DKMG Arch Top. Sebuah gebrakan yang sangat fenomenal mengingat ia adalah gitaris Indonesia pertama yang diendorse oleh Jackson.

Akhir tahun 2007, Prisa memutuskan keluar dari DeadSquad dan membentuk band metal yang seluruh personelnya wanita. Band itu dinamakan Vendetta. Di band ini Prisa juga sudah mulai memainkan gitar 7-string. Hingga awal tahun 2008 Prisa lebih sering terlihat di tv sebagai bintang tamu dalam sejumlah penampilan band-band papan atas tanah air seperti J-Rocks, Samsons, dan The Titans.

* Data menarik seputar Prisa (2003) Additional vocal dan model video clip Seringai
* (2006 Jan) Terpilih sebagai Miss Gitaris.com
* (2006 Mar) Tampil bersama Zala di Java Jazz
* (2006 Apr) Tampil di harian Kompas 23 April 2006 dalam artikel mengenai Gitaris.com
* (2006 Mei) Talk show (Prisa + Mayzan) di GlobalTV dalam liputan mengenai Gitaris.com
* (2006 Jun) Tampil bersama Sheila On 7 di Panggung World Cup sebagai additional vocal
* (2006 Jul) Tampil bersama Edane sebagai guest gitaris di PRJ (membawakan 2 lagu)
* (2006 Jul) Tampil bersama Abdee Slank dalam sebuah klinik
* (2006 Jul) Model cover majalah Gitar Plus
* (2006 Jul - Ags) Additional gitar+vocal Sheila On 7 (Promo tour album 507) hingga ke Malaysia
* (2006 Ags) Model cover majalah HAI edisi "Sekarang Giliran Anak Metal"
* (2006 Sep) Demonstran (bersama Irvan) untuk produk kabel Analysis Plus selama 4 hari di Balai Kartini
* (2006 Nov) Tampil di majalah Trax edisi 11/2006 di column 'GirlDoYouRock'
* (2006 Des) Duet bersama Mayzan di acara gathering Gitaris.com membawakan lagu Elixir dari Marty Friedman
* (2007 Jan) Gitaris.com di O-Chanel menampilkan Prisa
* (2007 Jan) Majalah Audio Pro menampilkan profil & wawancara Prisa
* (2007 Feb) Gitaris.com di Black In News Trans 7 menampilkan Prisa
* (2007 Mar) Koran Tempo menampilkan profil Prisa.
* (2007 Ags) Tampil sebagai guest vocal + gitar J-Rocks untuk single Kau Curi Lagi
* (2007 Okt) Interview di O-Chanel
* (2007 Okt) Bintang tamu di 4 Mata (Trans 7) edisi Gitaris bersama Eet Sjahranie, Tohpati, dan Dewa Budjana
* (2007 Des) Bintang tamu di acara Belum Cukup Gede (Trans 7)
* (2008 Jan) Liputan khusus Prisa di GlobalTV.
* (2008 Feb) Guest star dalam penampilan band Samsons
* (2008 Feb) Artikel khusus Prisa sebanyak 6 halaman di majalah HAI
* (2008 Mar) Guest star dalam tur penampilan The Titans di Palembang
* (2008 Apr) Prisa tampil sebagai presenter untuk acara Inbox (RCTI)

Read More......

IAN ANTONO


Ian Antono atau lengkapnya Jusuf Antono Djojo adalah seorang musisi gitar handal yang kini bermain untuk grup musik God Bless, pinpinan Ahmad Albar. Namun begitu, kesuksesan Ian dilaluinya melewati Gong 2000, Sapta Nada, Bentoel Band dan AKA Band. Sebelum akhirnya mendarat pada grup yang kini ditinggal vokalisnya akibat kasus narkoba itu.

Lahir di Malang, Jawa Timur, 29 Oktober 1950, Ian pertama kali bergabung dengan musisi Abadi Soesman, sebelum kemudian pada 1970 hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Bentoel Band. Baru pada 1974, Ian resmi menjadi gitaris God Bless, dan merilis album seperti Huma Di Atas Bukit (1975), Cermin (1980) dan Semut Hitam (1989). Dia juga sempat berduet dengan gitaris rock Eet Sjahranie dalam memainkan lirik God Bless.

Di tengah aktifitasnya di God Bless, Ian Antono juga aktif di Gong 2000 dan merilis album Bara Timur (1991), Laskar (1994) dan Prahara (1996). Kemampuan Ian di dunia musik seperti menjadi jaminan, dirinya tercatat pernah bekerja sama dan mengantarkan sukses album bagi Iwan Fals, Anggun C. Sasmi, Nicky Astria, Doel Sumbang, Gito Rollies, Ebiet G Ade, Ikang Fawzi dan lain-lain.

Sosok Ian Antono tidak bisa dipisahkan dari percaturan musik rock Indonesia. Kepiawaiannya memainkan gitar patut diacungi jempol. Melodi yang dimainkan begitu kuat dan berkarakter. Tak heran jika dia banyak menjadi sumber inspirasi bagi para grup band khususnya gitaris muda Indonesia. Bersama grup God Bless dan Gong 2000 Ian ikut andil dalam mewarnai perwajahan musik rock tanah air. Ian Antono secara mumpuni tak hanya sebagai gitaris tetapi juga arranger, komposer, dan produser. Nicky Astria dan Anggun C Sasmi adalah lady rocker yang lahir dari tangan dinginnya.

Kini sudah lebih dari tiga dasa warsa musisi yang dijuluki "Dewa Gitar Indonesia" ini berkiprah. Dan sudah ratusan masterpiece ia lahirkan dari tangannya. Sungguh sayang jika membiarkan karya-karya bernilai itu menganggur begitu saja menjadi katalog. Adalah Sony Music yang memprakarsai pembuatan sebuah album tribute untuk Ian Antono yang langsung mendapat dukungan antusias dari para musisi dan grup musik.

"Sudah lama kami berencana membuat album tribute untuk musisi Indonesia yang dianggap paling berpengaruh, dan Ian Antono adalah orang yang tepat. Banyak karyanya yang monumental dan masih dicari orang untuk dikoleksi. Untuk itu konsep album Tribute to Ian Antono ini adalah menampilkan karya besar Ian yang dibawakan secara khusus oleh para musisi dan band muda berpotensi, " jelas Jan N Djuhana, Senior A&R Director Sony Music.

Gayungpun bersambut. Ian Antono langsung menyodorkan tak kurang 50 lagu untuk dipilih. Dan terdapatlah 12 lagu hasil pilihan masing-masing band yang terlibat dimana kebetulan lagu-lagu itu mewakili perjalanan karir Ian Antono dari tahun 70 - 90-an.
"Dalam perjalanan saya sebagai seorang musisi, komposer, dan produser, inilah satu kebanggaan saya manakala mendapati lagu-lagu saya dibawakan oleh para musisi muda dengan warna dan karakter masing-masing,"ungkap Ian mengenai album ini.

Untuk lebih lengkapnya dapat disimak susunan lagunya berikut ini:

Rumah Kita - All ArtistAlbum Semut Hitam - God Bless (1987). Dengan aransemen yang apik, semua artis menunjukkan kebolehannya

masing-masing berkolaborasi membawakan lagu ini. Sebagai lagu yang sangat ngetop dan tak lekang dimakan jaman tak heran jika

Rumah Kita menjadi lagu jagoan dari album Tribute To Ian Antono.

Saksi Gitar Tua - Padi Album Bara Timur - Gong 2000 (1991)

Tertipu Lagi - GIGI Album Duo Kribo Vol.2 (Pelacur Tua) (1978)

Uang - Cokelat Album Uang - Happy Pretty (1986).

Bla-Bla-Bla - Edane Album Semut Hitam - God Bless (1987)

Menanti Kejujuran - Rebek Album Laskar - Gong 2000 (1993)

Neraka Jahanam - Yovie & Nuno Album Duo Kribo Vol. 1 (Neraka Jahanam) (1977)

Untuk Selamanya - The Collaboration Lagu tahun 87 ini sempat dibawakan oleh penyanyi Adolf Wemay

Yang Hilang - GallagasiAlbum Laguku - Ahmad Albar (1980) Gallagasi ini adalah band baru yang terdiri dari 3 personil Evan

Antono (drum), Rocky Antono (bass), yang tak lain adalah anak dari Ian Antono, dan Kurnia (vokal). Khusus di lagu ini Ian

Antono bertindak sebagai Arranger dan lead gitaris.

Zakia - Boomerang Album Zakia - Ahmad Albar (1979) Lagu dengan irama dangdut ini digubah total menjadi rock habis oleh

Boomerang, tentunya dengan ciri khasnya.

Panggung Sandiwara - Sheila On 7 Album Duo Kribo Vol. 3 1978

Suka - /rif Album Suka - Nicky Astria (1998)

Pengagum The Beatles ini hijrah ke Jakarta pada tahun 1969 bersama Abadi Soesman Band. 1971 ia bergabung bersama Band Bentoel, dan mulai meniti karir sebagai arranger antara lain dengan menggarap proyek untuk Emilia Contessa, Anna Matovani, dan Trio The Kings, 1974 bergabung dengan God Bles (formasi: Ahmad Albar, Donny Fattah, Ian Antono, Yockie S, Teddy Sujaya). God Bless merilis debut albumnya pertamanya dengan judul Huma Diatas Bukit pada tahun 1976. Setahun kemudian ia menggarap album Duo Kribo (Ahmad Albar & Ucok AKA Harahap) Vol. 1 dengan judul Neraka Jahanam yang melambungkan hit berjudul sama. Lagu ini menurut Ian sangat monumental karena menjadi cikal bakal tumbuhnya musik rock di Indonesia. Selanjutnya di tahun 1978 menggarap album Duo Kribo album Vol. 2 (Pelacur Tua), dan Vol. 3 (Panggung Sandiwara). Di tahun 1990 ia membentuk Gong 2000 dan merilis beberapa album.

Seputar sistem amplikasi gitarnya, Ian Antono bercerita, bahwa ia masih memboyong seluruh peralatan miliknya kemanapun ia manggung. "Walaupun pihak sound sistem juga sering menyediakan kabinet speaker yang secara spesifikasi sama, tapi saya lebih percaya menggunakan milik sendiri,"katanya. "Soalnya saya tahu persis kondisi seluruh peralatan saya. Saya pernah menggunakan kabinet speaker kepunyaan rental, meskipun secara fisik speakernya baik-baik saja, tapi soundnya berbeda. Seperti ada yang out of face gitu," katanya lagi."Waduh nyesel juga saya enggak bawa kabinet sendiri,"tegas Ian.

Kiprah Ian Antono dipanggung musik telah membuahkan banyak penghargaan antara lain BASF Award (1987 - 1988) untuk Arranger Terbaik dan Komposer Terbaik untuk album Gersang (Nicky Astria), HDX Award (1989) untuk lagu Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), BASF Awards (1992) Album Bara Timur (Gong 2000) sebagai The Best Selling Album dan The Best Arranger & Composer, HDX Award (1994) untuk album Laskar (Gong 2000) sebagai Album Terbaik. Yang tak kalah penting adalah penghargaan dari Diamond Achievement Award atas dedikasi dan prestasi tinggi di dunia musik di tahun 1995.

Musik memang sudah menjadi bagian hidup Ian Antono. Meskipun kini kegiatannya tidak seaktif dulu, Ian Antono masih terus mengikuti perkembangan musik. Kegiatannya saat ini adalah mengarahkan kedua anaknya Evan Antono dan Rocky Antono yang mengikuti jejaknya menjadi musisi.
Dengan dirilisnya album TRIBUTE TO IAN ANTONO, ia mengharapkan ada tindak lanjut lagi, dalam bentuk konser dimana semua band dan musisi yang tergabung dalam album itu manggung bareng.

Read More......